Rio dan Nia: Kisah Nyata Sepasang Mahasiswa Baru

Kampus

Akhirnya mendapat izin untuk menuliskan kisah krusial ini. Terjadi tahun 2010 silam, ketika seluruh mahasiswa baru angkatan 2010 sedang berkunjung ke sebuah desa dalam rangkaian OSPEK membawa bendera Fakultas.

Sebelumnya perkenalkan, nama aktor utamanya adalah Rio, seseorang yang jati dirinya sengaja dirahasiakan. Kisah ini menyangkut pengalaman pribadinya dengan Nia, Amel, dan Tom yang waktu itu menjadi satu kelompok dan tinggal (live in) di sebuah rumah di sebuah desa di Garut, Jawa Barat. Serangkaian kejadian di desa itu membuat Rio tak henti-hentinya menyesal hingga kini jika mengingatnya.

Dalam kegiatan itu, kami semua seluruh mahasiswa angkatan 2010 yang turut berpartisipasi dalam acara puncak rangkaian OSPEK. Rio, Nia, Amel, dan Tom mendapat bagian untuk tinggal di sebuah rumah di pelosok desa yang diberi nama Wilayah 3 dari total 4 Wilayah yang disediakan. Sebelum datang ke desa itu, Rio sudah cukup terkenal di kalangan panitia OSPEK dan para pesertanya. Jadi, tak sulit bagi kami ketika itu untuk mengenali siapa Rio itu, bagaimana dekilnya beliau ketika itu.

Karena kami semua ketika itu akan tinggal di sana selama 4 hari 3 malam, jadi kami semua diwajibkan untuk membawa perlengkapan full bak kelompok pecinta alam, seperti sleeping bag untuk peralatan tidur pribadi, perlengkapan mendaki dan bekerja, bekal dan cemilan, dan sebagainya. Di desa itu, dengan istilah kerennya “Berbakti Kepada Desa”, kami memang akan melakukan berbagai kegiatan untuk menunjukkan seberapa pedulinya kami kepada alam dan penduduk desa, dengan rangkaiannya antara lain: gotong royong membersihkan desa, memperbaiki sarana dan prasarana desa bersama warganya, dan kegiatan penting lainnya.

Di sana, kami diwajibkan untuk tinggal di rumah warga yang ada untuk menguji jiwa sosial kami. Kerenlah pokoknya. Singkat cerita, Rio and the gangs mendapat bagian untuk tinggal di sebuah rumah, sebut saja Rumah Pak Mahfud. Keluarga Pak Mahfud ini sangat ramah, yang keramahannya pun juga terkenal di antara warga desa itu.

Ketika sampai di desa itu, kami semua (dijemur) dikumpulkan di sebuah lapangan di bawah teriknya matahari untuk mendengarkan berbagai himbauan dari panitia pelaksana dan kepala desa. Nah, pada hari itu, hanya Rio yang tidak membawa bekal makan siang. Ia dituduh tidak menuruti himbauan panitia yang sebelumnya sudah sangat jelas diberitahukan kepada seluruh peserta OSPEK.

Setelah ditelisik, ternyata bekal makan siang Rio itu sudah dipersiapkannya dengan sangat baik, lengkap dengan air mineral dalam kemasan gelas yang dibelinya sebelum berangkat. Ternyata bekal makan siangnya itu jatuh dan terinjak-injak oleh kami (para bocah ingusan) yang ketika itu dengan semangatnya naik ke truk tronton sebagai transportasi utama kami mencapai tujuan. Akhirnya, seorang panitia yang (terpaksa) baik hati memasakkan mie instan untuknya.

Setelah perut Rio terisi dan diyakini tidak akan membuat repot panitia lagi, ia pun disuruh kembali ke barisannya. Setelah beberapa jam mendengar himbauan, kami semua pun diantar ke wilayah masing-masing. Tibalah Rio and the gangs (beranggotakan Rio, Tom, Nia, dan Amel) di rumah Pak Mahfud. Rio and the gangs terdiri dari 2 pasang manusia. Saat itu Rio dan Tom (yang sekarang merupakan teman baik) tidak begitu akrab sehingga Rio mau tak mau harus mengakrabkan diri dengannya.

Ketika itu Tom sangat pendiam, perasa, polos, dan memalukan (sekarang bocah yang satu ini tumbuh menjadi bocah durhaka kepada teman-teman yang memungutnya dari keterabaiannya sebagai bocah ingusan di awal perkuliahan). Jadi, Rio agak susah mengakrabkan diri dengannya. Rio pun berusaha mendekatkan diri ke Amel dan Nia agar kehidupan mereka sebagai kelompok selama 3 malam 4 hari di rumah itu berjalan lancar.

Malam pertama, seluruh peserta OSPEK Wilayah 3 dikumpulkan di sebuah Masjid untuk berbagai himbauan agar kegiatan esok harinya berjalan dengan lancar. Rio and the gangs duduk berdekatan. Setelah beberapa puluh menit mendengarkan himbauan itu, Rio memberikan tanggapan yang sangat baik dan tepat sasaran sehingga membuat seluruh pihak yang ada di sana berdecak kagum, begitu juga dengan Nia. Nia pun memberikan komentar positif seakan mendukung penuh tanggapan Rio tersebut. Itulah tanda pertama bagaimana kisah cinta mereka terekam di Garut.

Setelah itu, Rio and the gangs berjalan pulang beriringan, seakan tak ada yang mampu membuat kedekatan mereka retak. Rio dan Nia berjalan di depan, sedangkan Amel dan Tom malu-malu mengikut dari belakang. Banyak sekali hal yang dibicarakan Rio kepada Nia. Ada banyak hal pula yang membuat Nia tertarik kepada Rio karena obrolan mereka sangat menarik dan nyambung satu dengan yang lain.

Namun, sebuah insiden membuat ‘awal cinta’ mereka hancur begitu saja. Malam itu ketika Rio and the gangs hendak tidur, Rio tidak membawa sleeping bag sebagaimana yang sudah dihimbau sebelum mereka berangkat. Sebaliknya Rio mengeluarkan sehelai selimut tebal kucel yang belum dicuci selama 3 bulan dari tasnya. Sontak Nia teriak, “Hey! Please, jangan keluarin itu. Bau banget! Masukin lagi!”

Iya, Nia memang orangnya cerewet, tegas, judes sekaligus sadis. Rio dengan santainya menjawab, “Habis mau gimana? Kalo ngga dipake ntar aku kedinginan. Kalo aku kedinginan ntar aku cari kehangatan. Kalo aku cari kehangatan berarti aku harus meluk kamu.”

“Hih, ogah! Apapun yang terjadi jangan keluarkan selimut itu dan jangan peluk gue!” Nia masih sadis meresponnya.

Untuk mengatasi ketakutannya, Nia berjalan ke kamar Pak Mahfud dan sang istri, mengetuk pintunya sembari memanggil dan membangunkan Ibu Mahfud untuk meminta selimut. Untung saja Ibu Mahfud orangnya sangat ramah, sehingga dengan ikhlas memberikan selimutnya kepada Nia dengan ikhlas tanpa batas.

Setelah menerima selimut dari Bu Mahfud, Nia memberikannya dengan gaya judes khas-nya kepada Rio. “Nih, pake selimut ini!” Saat itu jugalah Rio jatuh cinta kepada Nia, yang menurutnya sadis tapi pengertian, judes tapi tetap terlihat cantik dan keibuan.

Dan perlu diketahui, Rio and the gangs tidur berderetan di ruang tengah yang tidak lebar/luas, beralaskan sebuah permadani yang sangat hangat dan nyaman. Berurutan, di posisi paling pojok dekat dinding ada Amel, di sebelahnya Nia, di sebelah Nia ada Rio, dan Tom yang paling cepat tidur dengan nyenyaknya berada di posisi paling pojok dekat pintu rumah.

Rio dan Nia tidur bersebelahan, dan malam itu cuma mereka berdua yang belum terlelap. Saat itu mereka menghabiskan beberapa jam menjelang tengah malam untuk mengobrol. Saat itu pulalah Nia kembali tertarik kepada Rio, dan saat itu juga Rio semakin tertarik kepada Nia. Ternyata, Nia malu menunjukkan ketertarikannya kepada Rio sehingga ia mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki kekasih. Benar, Nia memang sudah punya pacar.

Hal tersebut membuat Rio sempat patah hati, tetapi tidak benar-benar patah hati karena pacar Nia berada di luar kota, sehingga Nia dan sang pacar harus LDR-an. Nia berniat untuk memanas-manasi Rio agar bisa menyembunyikan ketertarikannya pada beliau. Nia pun menunjukkan foto pacarnya kepada Rio melalui ponselnya.

“Wanjirrr, jelek banget! Hitam, jelek, jerawatan, dekil, hih! Kok bisa kamu mau sama dia? Padahal kamu cantik banget!” Rio secara spontan mengucapkan kalimat mematikan itu. Bukan bermaksud untuk menghina, tapi apa yang dikatakan Rio kala itu memang benar adanya.

“Tapi dia pemain musik Jazz lho.”

“Iya tapi ngga jelek gitu juga. Kamu bisa dapat cowok ganteng, pintar, putih, dan bisa main Jazz.”

“Biarin ah!” Nia kemudian menghubungi pacarnya itu. “Halo, sayang? Kok belum tidur? Oh.. Ini aku mau tidur, besok pagi harus bangun cepat soalnya. Kamu baik-baik ya di sana.”

Di hadapan Nia, mata Rio dengan juteknya memperhatikan setiap getaran bibir Nia yang berucap ketika bertelpon dengan kekasihnya yang jelek itu. Kemudian Rio berkata, “Heh, udah tidur sana. Berisik malam-malam telponan!”

“Hih, biarin!” kemudian Nia melanjutkan obrolannya di telepon, “Aku kabarin kamu secepatnya ya. Night, muahhhh, love you.”

“Seneng banget aku denger suaranya.” pamer Nia masih tetap memanas-manasi Rio.

“Orang jelek kaya dia punya suara sebagus apa sih sampe kamu seneng denger suaranya?” tanya Rio dengan polosnya tanpa dibuat-buat.

“Bukan suara dari segi vokal yang aku maksud. Denger suaranya setelah hari ini lama banget ngga denger, aku seneng banget. Sirik aja sih. Pasti jomblo!”

“Makanya aku ngedeketin kamu hehehehe………” jawab Rio singkat sambil menutup mata dan menggeserkan posisi tubuhnya lebih mendekat ke Nia.

Nia tidak berusaha menjauh, tapi juga tak berusaha mendekatkan diri. Nia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut kemudian memejamkan mata. Tapi sebelumnya, ia masih sempat memperhatikan wajah Rio yang sudah lebih dulu memejamkan mata.

Keesokan harinya, Rio yang sebelumnya sudah populer di kalangan panitia dan peserta OSPEK, mendapat perhatian lebih dari seluruh pihak yang ada di Wilayah 3 ketika sedang bergotong royong mengangkat pasir dan batu secara estafet menggunakan ember. Apapun yang diperbuatnya selalu mendapat dukungan, sorak-sorai, dan elu-elu dari sesama peserta dan seluruh panitia. Banyak yang senang berada di dekatnya, terutama panitia perempuan yang tertarik dengan obrolan Rio yang selalu nyambung.

Di suatu momen, Rio yang ketika itu beristirahat duduk di sebuah emperan warung, didekati oleh seorang panitia perempuan dan memulai obrolan dengannya. Rio dan panitia yang bernama Berti itu terlihat akrab dengan cepat, padahal baru saja saling mengenal. Sesekali terlihat canda-tawa yang diperagakan mereka ketika terlibat dalam obrolan menarik tersebut. Semua orang yang melihat aktivitas mengobrol mereka tak sulit mengetahui bahwa Berti tertarik kepada Rio secara personal, dari segi asmara.

Nia yang melihat dari jauh tampak cemburu, atau setidaknya ada mimik kesal/tak suka yang tergambar di wajahnya ketika menyaksikan mereka berdua. Mulai saat itu, Nia bersikap semakin judes kepada Rio. Mereka yang sejauh itu sering mengobrol bertukar pikiran tentang banyak hal, tiba-tiba saja terlihat tidak akrab, atau istilah asmaranya ‘marahan’. Tentu saja Rio penasaran apa penyebabnya.  Rio berulang kali memohon kepada Nia agar memberitahu apa yang menjadi penyebab kenapa Nia marah kepada dirinya.

Di malam hari, di posisi tidur yang sama, Nia selalu membelakangi Rio. Dan selalu juga, Tom yang paling cepat tidur, kemudian Amel. Seperti biasanya juga pada malam itu, hanya mereka berdua yang belum tidur. Rio asik memperhatikan Nia dari belakang. Setelah grasak-grusuk beberapa kali karena tidak bisa tidur, Nia perlahan membalikkan badannya dan berusaha mengintip dari balik selimutnya, apakah Rio sudah tidur atau belum.

Rio mengetahui hal itu dan sambil tertawa berkata, “Apa lihat-lihat?”

Nia (masih) dengan judesnya menjawab, “Hih, apaan!?” kemudian membalikkan badannya kembali.

“Aku kangen ngobrol bareng kamu lagi sebelum tidur. Ibarat anak kecil, ngobrol sama kamu itu nina-bobo untukku.”

Nia tak menjawab. Ia hanya diam di balik selimutnya tapi memikirkan dalam-dalam kalimat itu. Rio tak mengucapkan apapun lagi setelahnya. Setelah beberapa lama Nia bertanya-tanya dalam hati kenapa tak ada lagi ucapan yang keluar dari mulut Rio yang selama itu sering mengganggunya, Nia pun kembali berbalik dan kembali mengintip Rio. JONK!!! Ternyata Rio sudah tertidur, dengan pulas.

Hari terakhir aktivitas OSPEK di desa itu sebelum pulang keesokan harinya, semua peserta yang tinggal di 4 Wilayah yang tersedia, termasuk aku yang merupakan peserta di Wilayah 4, bergabung di sebuah lapangan tempat kami semula berkumpul sebelum mengikuti aktivitas terakhir di desa itu. Aktivitas terakhirnya adalah menyusuri bebukitan yang mengelilingi desa tersebut.

Dalam satu kelompok terdapat 15 orang, di mana 15 orang tersebut merupakan perpaduan dari peserta 4 Wilayah yang ada. Dan kebetulan sekali, Rio dan Nia berada di antara 15 orang tersebut. Sedangkan Amel dan Tom ngga tahu bertengger ntah di mana. Nah, saat itu juga, Nia dan Rio salah tingkah di antara peserta yang lain. Hanya mereka berdua yang terlihat tak berkomunikasi, dan terlihat sekali ada apa-apa di antara mereka.

Akhirya, perjalanan menyusuri bukit dimulai. Tibalah giliran kelompok Rio dan Nia untuk menyusurinya. Nia berada di posisi paling belakang dan Rio berada di posisi paling depan. Tetapi saat berada di tengah perjalanan, Rio sengaja keluar dari posisinya dan berjalan ke arah belakang dan berdiri tepat di belakang Nia. Rio dengan lembutnya berbisik dari belakang Nia, “Aku sengaja ke belakang kamu buat mastiin kalo kamu baik-baik aja dan aman di sepanjang perjalanan.”

Nia dengan sadis berkata, “Heh! Bukan elo yang nentuin keamanan gue! Lo kira gue selemah itu, ya!? Sombong banget lo!”

“Bukannya sombong. Aku diciptakan untuk melindungi cewek. Kebetulan aja kalo ternyata cewek itu kamu.”

Nia tak merespon apa-apa lagi. Tentu saja ia speechless mendengar kata-kata itu. Di sepanjang perjalanan Nia hanya terdiam sambil menyusuri jalanan terjal, berlumpur dan licin karena malam-malam sebelumnya bukit itu diguyur hujan lebat. Semua kelompok terutama kelompok Rio dan Nia dengan susah payah mendaki bukit tersebut.

Hampir semua peserta setidaknya pernah tiga kali terpeleset. Di satu jalan sempit, terjal, berlumpur yang parah dan tentu saja licin, Rio mendaki jalan itu dengan susah payah namun akhirnya berhasil mencapai puncaknya tanpa bantuan. Ia sengaja berhenti dan menunggu Nia berjalan mendekat. Nia dengan susah payah melewati genangan lumpur tebal dan sangat licin sebelum sampai ke posisi jalanan terjal yang baru saja didaki Rio.

Karena posisi mereka berada di paling belakang barisan, akhirnya mereka berdua sudah cukup jauh tertinggal dari yang lain.  Rio dengan setianya menunggu Nia sampai ke tempatnya berada. Setelah Nia sampai dan tinggal mendaki jalan terjal nan licin itu, Rio dengan tulusnya mengulurkan tangan hendak memberikan bantuan. Nia, tetap saja, dengan judesnya menolak uluran tangan itu.

“Apaan sih!? Udah gue bilang gue ngga lemah yang lo pikir!” Nia mengucapkan itu sambil menyingkirkan uluran tangan Rio dari hadapannya.

Setelah berkata demikian, Nia berusaha menaiki tanjakan licin itu. Namun, ia kemudian terpeleset dan terpelanting. Wajahnya yang cantik itu hampir saja bertabrakan dengan lumpur dan bebatuan yang ada di sana. Posisi Nia terpelanting jatuh itu benar-benar sangat lucu, dan Rio berusaha mati-matian untuk menahan tawanya. Sekali lagi Rio mengulurkan tangan untuk memberi bantuan kepada Nia.

“Pegang tanganku. Ini bukan bentuk kesombongan, tapi bentuk kepedulian untuk cewek terbaik yang sekarang ini eksis di depanku. Setidaknya anggap aja kaya gitu.”

Tanpa ragu lagi Nia meraih tangan itu dan menggenggamnya dengan kuat. Hidupnya seakan bergantung pada genggaman itu. Rio pun dengan susah-payah mengangkat Nia yang bertubuh lumayan gemuk itu ke posisinya berdiri. Nia pun terselamatkan.

Akhirnya Rio dan Nia berhasil menyusul peserta lain yang tergabung di kelompok mereka. Hingga sampai ke bagian bukit yang dituju, tak ada lagi kata yang terucap di antara mereka. Tetapi mereka berdua jelas memikirkan rangkaian kejadian yang terjadi yang melibatkan mereka berdua secara langsung.

Hingga malam hari yang dingin dan lembab, akhirnya kami semua selesai menyusuri bukit itu dan akhirnya sampai ke lapangan tempat pertama kami berkumpul saat tiba di desa itu. Kami semua duduk dibalut kehangatan mengelilingi api unggun yang besar. Nia dan Rio duduk berjauhan tetapi dari jauh saling mencuri pandang, dan malu-malu karena beberapa kali mereka ketahuan saling mencuri pandang.

 

Comment Policy in force from July 2013

Please kindly submit your thought below. I do really value your time and opinion about this article. But before submitting any comments, please read the following policies:

Please be aware that all comments are moderated and SPAM will not be published.

Comments must relate to the post topic.

Please use only your real name (not keywords), real email address and website URL on the available forms.

Don't embed URL right inside the comment form, unless your comment will not be approved.

If you are going to spam my inbox, make it worth your while ;)

 

Submit a comment

Scroll Up