Nah ini ada cerita tentang seorang teman, orang gila tapi intelek. Namanya Geri, nama sebenarnya yang disamarkan. Gimana ceritanya itu? Ntar ajalah…

Awal perjumpaan aku dan dia, akhir 2010, sebenarnya cukup romantis. Kami ketemu di kosan teman yang namanya Munaroh (nama samaran), waktu itu aku lagi main gitar sok-sok asiklah di depan teman-teman lainnya yang kebetulan lagi rame-ramenya. Nah, ada satu lagu yang pengen dipelajari si Geri. Dia minta diajarin. Setelah diajarin malah maki, “Ini gimana lagi, Anj*ng!???” Lah? Ini monyet dari kandang mana baru kenal udah maki, kira-kira gitulah pikirku.

Bukan cuma aku yang stres waktu itu. Ada sekitar 7 orang waktu itu kami ngumpul di kosan Munaroh. Ada aku, Munaroh sendiri, Yanuar, Bli, Dodida, Andian, dan Naba. Semuanya stres. Dari 6 nama imut teman-temanku itu, semuanya laki-laki. Nah, 6 orang itu termasuk aku sebenarnya baru kenal sama Geri. Kenal-kenal di kampus, biasalah MABA (mahasiswa baru) yang saling sok asik satu dengan yang lain.

Kami waktu itu udah beberapa kali ditegur, sama pemilik kosan dan sesama anak kosan di situ. Semuanya protes dengan keberisikan kami. Kami semua, kecuali Geri, memutuskan untuk diam. Menutup mulut dan lubang di bagian bawah. Pikir kami, suara kentut juga mungkin kedengaran sama tetangga kosan. Jadi daripada ditegur lagi mending diam sediam-diamnya. Tapi segala protes mereka tidak diindahkan oleh Geri. Tanpa sebab yang jelas dia teriak kencang di kosan itu. Ngga tau biar apa.

Mungkin dia teriak buat manggil teman-temannya sesama monyet, pikir kami. Konsekuensinya setelah dia teriak? Bener! Banyak monyet yang datang. Pemilik kost si Munaroh dan tetangga-tetangga sesama anak kosan di situ yang datang. Semua makian kaum monyet dikasih untuk kami. Yang paling parah? Kami yang harus hadapin makian mereka, sementara Geri kabur ke kolong kasur si Munaroh dan ketiduran di situ. Kami diusir, termasuk Munaroh, dan pergi meninggalkan kamar kosan yang terkunci dari luar lengkap dengan kasur dan Geri di bawahnya.

Itu kegilaan pertama.

Beberapa hari setelah pertemuan pertama kami itu dengan si Geri, ada suara sumbang yang dia kasih ke senior-senior Fakultas lain tentang kami. Dia bilang, “Gua males temenan sama mereka, bang. Bencong semua.”

Berangkat dari situ, belakangan dia udah tau kalo senior-senior itulah yang ternyata bencong ato cupu ato pengecut, setelah kami temenan sama senior-senior satu Fakultas kami yang ternyata ditakuti di kampus. Mereka adalah Pace Karl, Pace Jeff, bang Batara, bang Frank, bang Hen, dan abang-abang lainnya.

Setelah beberapa bulan menjadi mahasiswa, ada acara di kampus dengan MABA yang bertugas sebagai panitia. Beberapa di antara kami, yang waktu itu udah dikenal sebagai Anak Balok (karena sering nongkrong di tumpukan balok sekitar kampus), ikut berpartisipasi menjadi panitia. Waktu itu ada aku sebagai Keamanan, Andian dan Geri jadi LoGAYstik (Logistik). Beberapa hari sebelum hari H semua panitia sibuk bekerja. Semuanya mulai lupa makan, lupa minum, lupa tidur, lupa bernafas, lupa ganti celana, lupa boker sangkin sibuknya.

H-1 semua panitia diwajibkan menginap di kampus untuk berjaga-jaga perlengkapan, peralatan, dan keamanan panggung agar tidak dihancurkan oleh senior-senior jahil. Untuk pertama kalinya pada malam itu aku melihat Geri di tengah kesibukan para panitia. Setelah datang ke kumpulan divisinya, dia waktu itu kelihatan sedang mendengarkan baik-baik arahan dari ketua divisinya. Kemudian dia mengambil sebatang rokok ketengan dari telinganya, membakarnya, lalu menghembuskan hisapan pertama di wajah ketua divisinya itu. Gak tau apa maksudnya.

Setelah arahannya selesai, dia merebahkan diri di balok tempat kami biasa nongkrong (tempatnya tepat di belakang panggung acara itu), lalu tertidur di tengah-tengah kesibukan seluruh panitia. Dia tidur dengan pulasnya tanpa selimut di tengah dinginnya cuaca Bandung di tengah malam (waktu itu udah jam 11-an).

Sesekali dia ngigau:

“Yaelah, mak! Gua janji ga bakal bandel lagi, mak!”

“Halo? Iya pak, gua lagi tidur ini, pak.”

“Lu nyantai napa, bro? Gua cuma ngerokok sebatang doang, daripada elu yang gua rokok-in?”

Begitu seterusnya, dia tidur sambil ngigau di sepanjang malam, di tengah kesibukan seluruh panitia acara tersebut.

Di pagi harinya, Hari H acara itu, semua panitia diwajibkan membayar uang kaos kepanitiaan setiap divisi. Kebetulan si Geri nggak ada uang. Dia juga ngga tau info soal bayar kaos karena emang ngga pernah ikutan ngumpul di divisinya. Hal apa yang ia lakukan kemudian? Nyuri itu kaos dari panitia yang ngontrol si kaos-nya. Ngga tau gimana dia nyuri kaos itu. Denger-denger sih gombalin itu panitia, trus ngambil kaos-nya tanpa si panitia itu sadar.

Ini masih semester 1, masih banyak lagi kegilaannya yang perlu untuk diceritakan.

Bersambung . . .

 

Loading...

5 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here