[A Love Story] Ke Mana Langkah Selanjutnya? – Part 2

Fiksi

Berhari-hari berlalu dan aku masih menjejak di letak yang sama

Aku masih gila, aku masih hina, aku masih seperti yang mereka bilang

Aku masih terasing di duniaku sendiri

Terkunci di kamarku sendiri

Pun begitu aku masih tak mau menjadi yang mereka mau

Tujuanku cuma satu, untuk saat ini, menguncimu bersamaku

Aku ingat iris matamu

Aku ingat letak kerutan di wajahmu ketika kau tersenyum

Yang aku tak ingat, sejauh mana langkah yang akan kutuju untukmu

A man won’t take back his words.

Helaan nafasku sudah terlalu dalam untuk mereka. Kesabaranku sudah nyaris mencapai puncaknya. Aku tak yakin apa yang akan kulakukan jika pun sampai di puncaknya. Malam itu malam terakhir persiapan Natal di sekolah. Aku sendirian, sengaja diasingkan. Aku berusaha tak memikirkan mereka, tak memikirkan perbuatan mereka, tapi hasutan dendam terlalu kuat. Sudah terlalu lama aku menahan amarah dan memaafkan mereka. Tak enak diperlakukan seperti ini, apakah kalian tahu? Aku terkadang bermimpi untuk berganti posisi sebagai salah satu di antara mereka. Aku ingin tahu apakah aku seperti mereka ketika ada seseorang yang diasingkan habis-habisan seperti aku sekarang ini?

Aku selalu sadar kalau keadaanku sekarang ini karena sifatku seperti ini. Keegoisanku dalam cara pandang tak tertandingi. Aku tak pernah ingin mundur dari apa yang kuanggap benar. Aku juga yakin bahwa ada perbedaan pada serpihan kebenaran yang mereka yakini, hanya saja aku tak ingin mengetahuinya.

Saat seperti inilah aku merindukan masa kecilku, ketika aku memiliki seorang ibu yang senantiasa merangkulku, membunuh rasa sepiku, dan selalu menganggap eksistensiku. Aku ini ‘ada’ di matanya, dan aku jauh lebih spesial baginya di antara seluruh anak yang pernah terlahir. Tentu saja. Aku anak satu-satunya dari cinta seumur hidupku tersebut. Aku menyayanginya, dan aku tidak akan seperti ini jika ia masih bisa memberikan kecupannya di keningku, seperti yang dilakukannya sebelumku meninggalkan dunia untuk sesaat di malam hari.

Aku berusaha untuk merelakan tanpa melupakannya. Tidak akan! Aku tak akan dan tak mungkin melupakannya. Karena itulah aku harus memiliki Margaret. Aku bisa melihat sinar mata ibuku ketika menatap matanya. Ini bukan obsesi semata, sudah kupastikan. Aku hanya ingin ada dia untuk saat ini. Aku ingin dia merangkulku dan menemaniku meninggalkan derita ini. Aku memimpikannya untuk memimpinku keluar dari penjara hidup ini. Sudah jelas aku tak akan membiarkannya hanya menjadi mimpi, aku akan mewujudkannya dengan caraku. A man won’t take back his words.

Duduk diam menyendiri di pojok dinding kelas ini tak akan membantuku apa-apa. Aku harus menemui Margaret, memulai obrolan dengannya, dan memulai perjuanganku untuk mendapatkannya. Yeah, aku sudah tak sabar melihat langkah pertamaku. Aku tidak lagi ingin memikirkan caranya, tak lagi ingin membuang waktu beberapa jam dalam hidupku untuk memikirkan caranya seperti yang selama ini aku lakukan untuk mengawali langkahku bertindak. Sekarang ini aku hanya ingin memulai implementasi cara-cara yang telah  kupikirkan, dimulai dari menemuinya – putusku.

Aku bangkit dari tempatku menyendiri dan memulai langkah pertama. Aku berjalan keluar dari kelasku yang sudah tertata rapi, bersih, dan terlihat cukup indah untuk mengawali perwujudan mimpi baru ini. Arahku memandang pertama tertuju pada kelasnya di seberang, tidak ada di sana. Aku mengganti arahnya ke  pohon rindang dekat Gua Maria, juga tidak ada. Pandanganku juga mengganti arahnya ke keramaian perempuan di tengah lapangan basket, juga tidak ada di sana. Aku menapak menuruni tangga dan langsung menuju ke arah 180 derajat dari posisiku berdiri tadi. Aku mencari ke bagian perpustakaan di belakang bawah kelasku. Sembari berharap dia ada di sana, aku juga memalingkan pandangan ke berbagai arah selagi aku berjalan ke arah tujuan.

Dalam beberapa waktu selama berjalan aku jadi tidak benar-benar yakin dengan bentuk wajah yang aku ingat. Apalagi dalam kondisi remang seperti sekarang ini, ada banyak sekali orang yang sepertinya mirip dengannya, terutama bentuk ikatan rambutnya. Entah kenapa, saat ini aku yakin aku akan menemukannya. Aku belum mau berhenti melangkah walaupun aku mendadak menjadi seorang pesimis. Aku selalu yakin akan menemukannya, untuk sekarang ini, dan aku ingat kalau aku tidak akan kembali dengan ucapanku.

Sampailah aku di perpustakaan dan tanpa ragu mulai menapak masuk. Perpustakaan tersebut normalnya sudah tutup di malam hari. Malam ini adalah malam pengecualian untuknya. Aku melihat ke sekeliling. Mataku mencari-cari meskipun kakiku melangkah ke arah yang berlawanan. Aku belum mau berhenti, tegasku. Dibandingkan dengan perjuanganku selama ini, mencarinya di tempat ini bukan apapa. Aku kembali ke sifat dasarku, optimis. Beberapa menit mencari, aku belum juga menemukannya. Tidak ada tanda-tandanya di sana. Aku jadi benci dengan luas perpustakaan ini. Aku mendadak benci dengan rak buku favoritku, buku berbau politik, karena aku berharap aku bisa melihat mata indahnya lagi di antara susunan buku tersebut.

Semuanya sudah kujelajahi, tidak ada. Aku keluar dari perpustakaan dan mencari-cari ke berbagai sisi sekolah lengkap dengan sudutnya. Aku tetap optimis dan harus tetap optimis. Semua sisi  dan sudutnya sudah, ke mana lagi? Tidak ada dia di mana pun. Tidak mungkin dia tidak ada di sekolah ini karena dialah salah satu panitia inti dalam acara Natal sekolah nanti. Aku sempat tidak yakin tapi masih terdorong untuk tetap optimis. Kulanjutkan langkahku. Kubiarkan kakiku untuk tetap menopang tubuh ini ke mana pun yang diarahkan hatiku.

Sekitar satu jam aku berkeliaran di antara mereka yang sedang sibuk mengobrol dan bekerja kecil-kecilan untuk persiapan terakhir sebelum acara, aku berhenti di satu pojok Timur bagian sekolah. Ada pohon Natal lengkap dengan hiasannya di sana. Aku melamun sembari memusatkan pandangan ke arahnya. Aku tidak tahu berapa lama yang kuhabiskan untuk berdiri diam dan menatap keindahannya. Aku kemudian tersadar. Ada hal yang membangunkanku dari lamunanku. Seorang perempun berlutut dan menempatkan lilin di lingkaran bawah pohon Natal tersebut. Siapa dia? Bukan Margaret!, kesalku. Tapi aku tertarik dengan apa yang dilakukan oleh perempuan tersebut. Aku pernah beberapa kali melihatnya, dia cantik juga tapi bukan impianku.

Aku mendatanginya dan ingin membantu menempatkan lilin-ilin yang ditumpukkan pada sebuah keranjang kecil di bawah pohon Natal itu. Ia tersenyum dan sepertinya mengerti dengan niatku. Kami berdua pun bergantian mengambil dan membakar sumbu lilin tersebut, lalu menempatkannya di tumpuan yang sudah disediakan. Aku tak berani mengajaknya berbicara. Lagipula aku tidak tahu harus berkata apa. Ditambah lagi, mungkin dia salah satu dari mereka yang selama ini menghinaku. Atau setidaknya dia pernah mendengar cerita tentangku dari mereka. Ah, sudahlah. Itu bukan konsentrasiku untuk saat ini.

Tak ada suara apapun yang keluar dari mulut kami hingga lilin terakhir selesai dibakar dan ditempatkan. Ia mengambil keranjang itu, sekali lagi tersenyum, dan pergi meninggalkanku. Aku memperhatikan langkahnya hingga hilang di antara kumpulan orang. Aku kembali memperhatikan pohon Natal tersebut. Apa rasanya menjadi benda mati sepertinya?, pikirku keluar dari waras. Dari kejauhan terdengar suara loudspeaker dan petikan gitar yang lumayan indah di telinga. Petikan indah tersebut datang dari orang yang tidak indah di mataku. Dia salah satu dari mereka yang sering menghinaku. Ada suara-suara yang mengundang kami untuk melangkah ke sana, melangkah ke depan panggung pusat kemunculan suara tadi.

Tak kecuali aku juga pergi ke sana. Itu pun karena Suster Bernadetta, Suster Kepala sekolah kami, meminta kami semua untuk merapat ke panggung tersebut. Di antara mereka yang berlari kecil dan berjalan cepat, hanya aku yang sengaja melambatkan langkah. Intinya aku juga akan merapat ke sana walau lambat. Di tengah keramaian itu aku fokus pada satu titik, salib besar di bagian tengah dinding panggung tersebut. Aku berpusat ke sana. Apakah memang benar Dia yang tergantung di salib itu lebih menderita daripada aku saat ini? Pikiranku melayang-layang, dan sesekali aku bisa melihat diriku lebih dalam. Aku mulai membanding-bandingkan diriku dan diriNya, di mana letak kesamaan penderitaan kami dan kapan ini berakhir untukku?

Pikiranku terhanyut lebih dalam lagi. Lebih kacau. Bebanku menjadi lebih berat. Aku semakin menatapNya yang tergantung di salib itu. Di tengah dendangan musik yang sedari tadi di mainkan, aku hanya memusatkan perhatian pada satu titik. Begitu saja. Tiba-tiba ada suara petasan yang menyadarkanku dari lamunan liar. Aku melihat ke arah pecahan api dari petasan tersebut, dan……… aku melihatnya berdiri di antara kerumunan. Aku mengenali sosoknya dari belakang, ikatan rambut yang membuatku selalu ingat dan memikirkannya berlama-lama. Aku tiba-tiba tak bernyali. Darahku memanas di tengah dinginnya malam dan jantungku bergetar seperti merentetkan ribuan peluru per detik.

Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Bagaimana memulainya? Aku tak lagi mau memikirkannya panjang-panjang. Demi dia aku harus berubah, begitukan janjiku? Demi dia aku tak akan menarik kembali ucapanku, begitu kan seharusnya? Aku mulai melangkah ke arahnya. Aku harap dia diam ditempatnya berdiri. Perlahan-lahan, kataku dalam hati untuk diriku. Ya, ya, sedikit lagi aku bakal meraihnya. Meraih jarak tepat antara aku dengannya agar aku bisa memulai perjuanganku. Tidak, saat ini aku sudah berjuang.

Langkahku disambut dengan tatapan-tatapan sinis. Tatapan jijik yang sudah biasa aku hadapi ketika aku berjalan di tengah mereka. Mereka pun membiarkanku lewat, memberikan jarak pasti yang justru memudahkan langkahku untuk meraih jarak terbaikku dengannya. Semakin mudah, semakin mudah, gebuku dalam hati. Yap, semakin mendekat. Inilah saatnya.

Aku diam di tempatku berdiri kemudian, tepat di sebelah kanannya. Dia tidak menyadari kehadiranku di sebelahnya. Pikiranku seketika kosong, tidak lagi memikirkan hal apapun yang nantinya justru mengacaukan langkahku selanjutnya. Di tengah kebisingan musik dan nyanyian yang terpasang sebagai hiburan pada malam itu, Margaret seakan sudah masuk ke dalamnya. Aku tidak peduli dengan musiknya, aku peduli denganmu di sisiku, Margaret, andai kau tahu itu.

Aku spontan bertanya kepadanya, “Kok sendirian? Pacar kamu ngga nemenin?”

“Hah……? Oh, engga, kak. Aku bukan punyanya siapa-siapa.” katanya yang sedikit terkejut dengan kedatangan dan pertanyaanku.

“Musiknya bagus, ya? Sayang kalau dinikmatin sendirian.” Kau tahu, Margaret? Aku sama sekali tidak peduli dengan musiknya. Aku tidak peduli bahwa itu bisa membuatmu nikmat. Aku cuma ingin menemanimu menikmatinya, itu kenikmatanku.

“Iya, kak. Aku juga baru denger ini lagu.” Dia tampak tak lagi menikmati musik itu, atau tak sepenuhnya lagi menikmati. Ini kesempatanku. Aku tak lagi perlu mengganggunya karena fokusnya tak lagi 100% pada pertunjukan itu.

“Dengar, ehmmm….., aku butuh bantuan kamu. Ada yang harus aku angkat dari dalam kelasku, mungkin aku butuh teman untuk mengangkatnya.” Pintaku, yang sudah jelas hanya alasan belaka untuk lebih dekat lagi dengannya. Aku merasa pecundang. Di saat dia mungkin membutuhkan bantuan mengangkat kursi dari dalam kelasku ke kelasnya aku tidak membantunya, bahkan tidak ada basa-basi sedikit pun. Sekarang, aku malah memintanya untuk membantuku mengangkat sebuah objek tipuan yang bahkan belum kupikirkan apa objek yang kumaksud.

“Oh….., ya udah, kak. Ayuk.” Perempuan cantik dan kuat ini membuat beban diriku terasa ringan seutuhnya, tiba-tiba saja. Ada kata ‘ya’ dalam ucapannya barusan dan itu lebih dari cukup untuk sebuah jawaban positif untukku, untuk orang sepertiku.

Tanpa basa-basi lagi aku menuntunnya ke arah kelasku. Menghadap belakang panggung untuk mencapainya. Tetiba keberanianku menumpuk untuk pertama kalinya. Sepanjang perjalanan kami menuju kelasku tak ada suara lagi, dariku atau darinya, tidak ada. Kami hening di tengah kebisingan suara musik di loudspeaker. Sembari melangkah aku memikirkan apa langkah selanjutnya yang harus kutapaki. Dia sudah ada di sisiku untuk mencapai tujuan, kelasku. Ini yang kuinginkan, ini yang kuimpikan. Aku ingin dia selalu ada di sisiku, menemaniku, menjadi pembimbing bagi diriku untuk mencapai tujuan utama dalam hidupku, mencapai cita-cita yang sudah sangat lama aku perjuangkan.

Aku ingin selalu seperti ini, seumur hidupku. Aku sengaja melambatkan langkahku, begitu juga ikutnya. Aku berharap agar jarak tujuan menjadi lebih jauh, lebih jauh, yang penting aku bisa berlama-lama berjalan berdua dengannya.

 

Bersambung . . .

 

Comment Policy in force from July 2013

Please kindly submit your thought below. I do really value your time and opinion about this article. But before submitting any comments, please read the following policies:

Please be aware that all comments are moderated and SPAM will not be published.

Comments must relate to the post topic.

Please use only your real name (not keywords), real email address and website URL on the available forms.

Don't embed URL right inside the comment form, unless your comment will not be approved.

If you are going to spam my inbox, make it worth your while ;)

 

Submit a comment

Scroll Up