[A Love Story] Ke Mana Langkah Selanjutnya? – Part 3

Fiksi

Aku sudah terbiasa dengan kesepian

Perasaan kejam itu tak akan selamanya mengurungku

Setidaknya untuk saat ini

Aku terlalu mengenali bagaimana rasanya

Bagaimana kemunculannya

Dan bagaimana ia mereda untuk sesaat

Terlalu banyak kalimat-kalimat optimis,

yang bahkan tak dirasakan sendiri oleh pengucapnya

Tak ada yang benar-benar realistis sepertiku

Namun mimpi ini masih menungguku mewujudkannya

Terwujudnya satu mimpi adalah awal dari mimpi lainnya

 

“If there’s a girl you want to protect then protect her, and you’ll definitely become stronger” – Haku

Suasana sekolahku waktu itu sangat ramai. Aku seakan terjaga atas rasa kesendirian ini, rasa sepi ini. Atau mungkin karena ada gadis ini di sini, entahlah. Perasaanku menjadi lebih tenang. Aku merasa lebih kuat, atau mungkin karena aku sudah terlalu terbiasa?

Dua hari ini penuh kedamaian bagiku. Tentu karena aku sudah bertemu dengan gadis ini. Margaret-lah yang menjadi penyebabnya. Di ruangan penuh pernik ini mengingatkanku pada perayaan ulang tahunku ketika berumur 3 tahun, di saat ibuku masih ada di sisiku. Kehadiran Margaret seperti sekarang ini mengingatkanku padanya, sosok penuh kasih sayang yang telah pergi itu. Di ruangan inilah aku akan memulai pencapaian mimpi baru ini meski mimpi lainnya belum jua terwujud.

“Begini, ehmm…, aku pengen ngobrol sebentar,” kataku mulai dirasuki rasa gugup.

“Silahkan aja, kak.”

“Kita belum kenalan formal, nih. Aku belum tau nama kamu.” Begitulah kataku memulai semuanya. Aku masih ingat bagaimana ekspresinya, bagaimana gesturnya, dan juga bagaimana caranya merespon uluran tanganku yang saat itu tak lagi kusadari telah tersodor begitu saja.

“Oh iya kak, namaku Margaret.” Balasnya sambil merespon uluran tanganku. Aku bisa melihat senyumnya, senyum tulus yang saat itu juga menenangkan.”Aku jarang lihat kamu di sekolah. Kamu kelas berapa?”

“Kelas X-6, kak.” jawaban cuma seadanya membuatku sejujurnya sedikit kecewa. Tiba-tiba ia melanjutkan jawabannya tadi….
“Oh iya, kak, apa yang bisa kubantu?”
responku spontan menyahut, “Keberadaan kamu di sini sangat membantu….”

Lidah ini seakan sudah terlatih dan seperti bom waktu tinggal menunggu waktu sebagai pemicunya untuk meledak. Dan pemicunya adalah pertanyaan terakhir Margaret tadi.

Aku tak memikirkan kira-kira seperti apa responnya, tapi tetap di sudut biji mataku bisa kulihat respon kagetnya, sama sepertiku yang juga kaget ternyata mampu mengucapkan kata-kata demikian.

“Maksudnya, kak?” katanya lagi. Nada suaranya sedikit menggetar. Kali ini aku terdiam tak berani menatapnya, juga meresponnya.

Ia sepertinya tak berharap aku memberikan respon cepat dari pertanyaannya. Ia kemudian terdiam melihat aku terdiam. Suasana kelasku, tempat kami menghabiskan beberapa menit dalam keberduaan, menjadi hening, tenggelam di balik berisiknya suara alat musik yang berpadu indah di luar sana.

Dari dalam kami bisa mencium bau asap yang sudah bisa ditebak pasti dari api unggun yang merah menyala sengaja dihadirkan di tengah-tengah keramaian sebagai bagian dari acara. Beberapa saat kemudian semua lampu di sekolah kami dimatikan. Otomatis lampu kelasku juga mati, menciptakan suasana yang sebenarnya cukup romantis antara aku dan dia. Penerangan kami hanyalah kibasan cahaya dari api unggun tersebut, yang membuat suasana semakin romantis. Inilah saatnya, kataku dalam hati.

“Begini, Margaret…” ucapku terputus sambil memikirkan kalimat lanjutan. Ia melirik sebentar ke arahku ketika aku mengeluarkan suara, kemudian kembali tunduk ketika aku kembali terdiam.

Tangan kananku tanpa kusadari sudah menggenggam lengan kirinya. Kemudian itu menyadarkanku bahwa hal yang membuatnya melirikku bukan karena suaraku, tapi karena sandaran jemariku memeluk lengannya.

“Aku suka kamu….” jemariku yang melingkar di lengannya melembut siap terlepas.

“Aku ngga peduli bagaimana responmu, bagaimana kelak kamu menatapku, dan bagaimana kamu memandangku setelahnya, aku ngga peduli! Melihatmu, memikirkanmu, dan kehadiranmu di dekatku membuat sesuatu di diriku terasa bergeser, maksudku ada yang berubah. Aku ngga tau kenapa, yang pasti aku suka kamu.” Genggamanku pun terlepas darinya.

Aku siap menerima respon apapun kali ini, dan beban yang kuangkut terasa terlepas dalam sekejap, dalam hiasan kalimat yang baru saja kuucapkan.

Aku menatapnya dalam-dalam, tapi kini aku tak bisa melihat sepasang matanya karena menyenter ke arah lantai. Hanya bagian atas kepala darinya yang bisa kutatap.

“Aku….. ngga tau mau balas gimana, kak. Yang pasti…. aku ngga tau apa yang kurasakan sekarang” katanya sedikit menggantung. Aku hampir mati penasaran menunggu kalimat sambungannya, yang menurutku jawaban final dari ini semua.

Beberapa menit berselang setelah keheningan menyelimuti keberduaan kami, bukan kalimat lagi yang ia berikan, namun saat itu ia menarikku keluar kelas. Kali ini ia yang menggenggam pergelanganku, tanpa kusadari aku dengan ringannya melangkah kemana pun yang ia kehendaki pada saat itu.

Ia melepaskan genggamannya saat kami selesai menuruni tangga, dan melangkah tanpa menyuruhku mengikutinya. Ia bergabung dengan kerumunan dan melambatkan langkahnya sebagai tanda bahwa ia menungguku meraihnya.

“Api unggunnya bagus.” katanya setelah kaki kami berhenti melangkah dan berpijak di terpal triplek yang terdedia untuk mencegah bara api dan sisa arang menjadi perusak rumput lapangan pondasinya.

Di tengah keramaian dan bakaran api di tengah kami, musik masih tetap mengalun meski sepertinya tak ada lagi tatapan yang mengarah pada pemainnya. Aku bisa melihat seri wajah Margaret yang disambar nyala api terlihat begitu cantik, dan tentu saja menenangkan, meski tak ada jawaban pasti darinya mengenai ungkapanku barusan.

Aku masih sangat gugup karena ia menggantungku dari kepastiannya.

“Aku tau apa yang kamu pikirkan, kak. Aku ngga mesti respon itu sekarang, kan? Atau kamu maksa aku harus jawab sekarang?” rentetan pernyataan dan pertanyaannya mengagetkanku, tentu saja, karena tiba-tiba saja ia mengungkapkannya.

“Tidak masalah…..” jawabku singkat, berusaha meloloskan diri dulu dari keterkejutanku.

Kemudian aku melanjutkan, “yang penting aku lega udah bisa jujur ke kamu. Setidaknya itulah perasaan yang bisa kukonversi ke dalam bentuk kalimat.”

“Aku ngerti, kak. Tapi aku bisa ngerasa ada mimpi di balik itu, walaupun kamu ngaku kalo kamu udah lega.”

Wow! Bagaimana bisa kau tau itu, Margaret? sentakku dalam hati.

Ia meletakkan telapak tangannya ke telapak tanganku, kemudian jari kami berpelukan.

“Kata orang-orang sih ya, kalo sepasang punya perasaan yang sama, salah satu dari mereka setidaknya bisa merasakan apa yang dirasakan pasangannya.” katanya membuatku nyaris melompat ke arah api unggun sangkin kagetnya.
Tentu saja seribu pertanyaan tiba-tiba menumpuk di pikiranku. Apa maksud gadis kecil ini? Hey, apa aku hanya berhalusinasi?

“Kamu ngerti maksudku kan, kak?”
Aku bisa menebak, tapi masih takut mengerti sepenuhnya, Bisakah lebih spesifik? tanyaku dalam hati, tanpa menatapnya.

Melihatku terdiam tanpa respon apapun, termasuk dari mimik dan gesturku, ia mengeraskan remas jarinya.

“Aku juga suka kamu, kak. Hanya saja aku takut ngungkapinnya dalam ruangan gelap kaya kelas kamu tadi. Lagian di depan api unggun gini lebih romantis, kan?” jelasnya dengan sangat jelas……

“Oh…. ehm…. kamu.. serius?”

Ia hanya mengangguk kecil. Sesuatu telah berubah dalam diriku pada saat itu juga. Egoku seakan berkurang dari darah keras ini. Sifat ini pun melunak.

Hal yang bisa kupelajari sejak bertemu dengan Margaret: tak perlu menunggu lama mewujudkan mimpi ini. Secara perlahan dan pasti serta tetap meyakini, lunakkan ego, coba apa yang belum atau tidak pernah mau dicoba, dan tatap lurus kemana langkah yang ingin dituju selanjutnya demi mimpi itu, Kemudian wujudkan tanpa berpikir panjang berbelit-belit. jalani apa yang sudah diyakini dan jangan biarkan hasutan negatif dalam diri mengontaminasi keyakinan yang sudah bulat.

Malam itu, satu dari sekian banyak mimpiku sudah terwujud. Tugasku kemudian, tentukan langkah selanjutnya demi mewujudkan mimpi yang tersisa sekaligus menjaga mimpi yang sudah tercipta.

Bersambung . . .
 

Comment Policy in force from July 2013

Please kindly submit your thought below. I do really value your time and opinion about this article. But before submitting any comments, please read the following policies:

Please be aware that all comments are moderated and SPAM will not be published.

Comments must relate to the post topic.

Please use only your real name (not keywords), real email address and website URL on the available forms.

Don't embed URL right inside the comment form, unless your comment will not be approved.

If you are going to spam my inbox, make it worth your while ;)

 

Submit a comment

Scroll Up
error: Oopps . . . Lagi Error Cuk!