Shit in the Wardrobe: A Story of Munaroh

Kampus

Sebelumnya perkenalkan, namanya Munaroh. Yang jelas nama samaran. Seperti judulnya, inilah cerita tentang si Munaroh itu sendiri, bocah tak berdaya yang hingga kini tak berdaya.

Suatu sore, sepulang kami Anak Balok dari kampus, singgahlah kami ke kosan Munaroh sebelum pulang ke kosan masing-masing. Kami berteduh di situ sekitar beberapa jam. Seperti biasanya, kami menghabiskan banyak waktu berkumpul bersama sambil bercerita banyak hal. Waktu itu ada aku, si Munaroh, Yanuar, Geri, Bli, dan Naba.

Seperti biasanya juga, kami mengeluarkan suara-suara bising yang mampu mengganggu tetangga dan bapak-ibu pemilik kosan. Tapi kali ini, mungkin karena mereka udah jera setelah Kegilaan si Geri terjadi, tak ada yang berani menegur kami. Mungkin udah trauma mendengar teriakan Geri yang kala itu tiba-tiba saja menggelegar.

Baiklah, sebelum masuk ke cerita intinya, izinkanlah aku mendeskripsikan bagaimana si Munaroh ini, karena kisah ini adalah kisahnya dan cerita ini dipersembahkan untuknya.

Munaroh (bukan nama sebenarnya), merupakan anak dari keluarga Tiong Hoa – Batak-Belanda. Bayangkan, betapa tampannya anak ini (seharusnya) dari hasil perpaduan multi-etnis tersebut. Dari antara kami Anak Balok yang memang bergaul dalam bendera multi-etnis dan multi-agama, Munaroh-lah simbol kami, karena dirinya ‘sebongkah’ itu pun adalah multi-etnis. Kalo bahasa Inggrisnya: He, himself, is multi-ethnic. Jangan protes!

FYI, si Munaroh ini asal ke kampus jarang kali mandi. Jangankan mandi, sekedar cuci muka atau gosok gigi aja jarang kali, makanya jangan heran kalo penampilan beliau ke kampus masih lengkap dengan belek yang tertempel rapi di sekitar matanya. Gigi panjang-sebelahnya juga masih dihiasi dengan sisa makanan tadi malam yang ngga nyampe perut. Soal pakaian? Ya pakaian kemarin, yang dia pake pas tidur, dia pake juga pas kuliah besoknya.

Begitulah si Munaroh. Tapi gitu-gitu juga, dia itu populer lho di fakultas kami. Ngga ada yang ngga kenal dia, hebat kan? Tapi yaaaaa…………… kalian juga tau kenapa dia populer di kampus.

Nah, lanjut ke cerita intinya. Kala itu obrolan semakin jauh menembus pribadi kami semua. Jadi masing-masing kami terpancing untuk semakin membuka diri, membuka hati, guna saling bertukar cerita satu dengan yang lain, sekaligus membuka dompet masing-masing untuk patungan beli rokok. Munaroh sebagai tuan rumah yang bertugas membelikan rokok ke warung.

Setibanya ia dari kwajibannya, ternyata bukan hanya rokok yang dibelinya. Ia juga membeli susu kotak untuk dirinya sendiri, dengan catatan; uang hasil patungan kami tadi untuk membeli rokok dikurangin khusus untuk membeli susu-nya. Kampret si Munaroh!, tapi tak apalah demi sekotak susu sang buah hati.

Hingga larut malam kami berteduh di kosan Munaroh, kami pun memutuskan untuk pindah tongkrongan ke kosan Yanuar, yang kemudian menjadi markas kami seterusnya hingga beberapa semester ke depan. Kami semua memutuskan diri untuk menyambangi kosan Yanuar lengkap dengan si Munaroh sendiri.

Sejak meninggalkan kosannya kala itu dan ikut dengan kami ke kosan Yanuar, ia tak lagi pernah pulang ke kosannya itu hingga berbulan-bulan setelahnya, bahkan hingga dua semester. Pernah satu kali Munaroh pulang ke kosannya untuk mengambil sehelai pakaian dan kebetulan bertemu dengan si bapak kosan, terjadilah dialog seperti ini:

“Eh, Munaroh. Kemana aja? Kok jarang keliatan nih sekarang?”

“Bapak.. Ah saya di sini terus kok, bapak aja yang jarang keliatan.”

Si bapak kosan pun seketika trauma dan tak melanjutkan obrolan lagi.

Setelah dua semester meninggalkan kosan, Munaroh lupa kalo susu kotak yang dibelinya sudah terbuka kotaknya, dan dibiarkan menganga di kamarnya yang pengap karena jendelanya tidak dibuka selama satu tahun. Susu itu pun dibiarkan menganga di situ selama setahun, lebih. Selama setahun itu juga ia menginap di kosan Yanuar tak pernah pulang lagi.

Akhirnya susu itu pun membusuk dan menebarkan bau ke seluruh penjuru kamar Munaroh. Baunya menyerupai bau tai. Ketika kami ‘sekali lagi dan untuk terakhir kali’ berkunjung ke kosan Munaroh, satu-satu di antara kami nyaris tumbang mencium bau tersebut. Entah kenapa emosi kami meningkat, dan sebagai bentuk pelampiasannya, kami pun membuat cerita-cerita lucu seputar Munaroh dan kamarnya yang bau tai itu. Isi cerita tersebut seperti ini:

“Pernah suatu ketika, si Munaroh kebelet boker dan kebetulan kamar mandi di seluruh kosan sedang ada penggunanya, termasuk juga toilet pribadi di dalam rumah bapak pemilik kosan. Jadi sangkin kebeletnya, dan kebetulan pula ia menemukan sekantong plastik di bawah tempat tidurnya, ia pun memuaskan hasratnya itu ke dalam plastik tersebut. Dan karena bingung mau ditaro kemana kantongan isi tinjanya itu, ia pun menyimpannya di lemari pakaiannya. Lemari pakaian kecil tersebut menjadi brankas khusus untuk tai-nya Munaroh.”

Niat kami menceritakan cerita di atas hanya untuk lucu-lucuan, dan jujur aja cerita itu hanya untuk konsumsi kami-kami aja sesama Anak Balok. Ya kami juga taulah si Munaroh ngga segoblok dan setolol itu. Tapi entah kenapa, cerita tersebut tersiar luas ke fakultas kami sebagai konspirasi, sampe sekarang ngga tau siapa yang nyebarin gosip itu.

Jadi, setiap kali si Munaroh ke kampus, tiba-tiba aja orang ngelilingi dia dengan sejuta pertanyaan bak wartawan yang hendak mewawancarai Sule. Bahkan cewek tercantik dan terpintar di kampus kami kala itu, namanya Inri, bertanya dengan polosnya ke Munaroh: “Naroh, emang bener ya kamu nyimpen tai di lemari?”

Cewek terpintar itu tiba-tiba jadi bodoh. Iya, soalnya dia percaya sama cerita goblok yang kami ciptakan. Tapi dia tetap yang tercantik, karena pas bibirnya mengucapkan ‘tai’, tetep aja keliatan cantik dan seksi.

Selain si Inri yang penasaran dengan kisah tersebut, muncullah Seran, salah satu Anak Balok, langsung mendatangi kosan Munaroh. Ia sangat percaya dengan kisah buatan itu, dan yang paling membuatnya percaya adalah si Munaroh sendiri. Tampang mabuk khas-nya dan gaya jalan letoy-nyalah yang menyebabkan kenapa cerita itu benar-benar cocok untuknya, dan sangat mungkin kalo Munaroh mampu melakukan tindakan menjijikkan itu.

Kebetulan di kosan Munaroh kala itu ada Bli. Seran datang dengan beban rasa penasarannya dan langsung meluncurkan pertanyaan:

“Naroh, lu nyimpen tai di lemari ya?” dan dengan gobloknya Munaroh malah mengiyakan pertanyaan itu.

“Iya!” katanya dengan mantap sambil tertawa karena kegoblokan pertanyaannya itu.

“Masih ada di lemari?”

“Udah gua buang di tempat sampah.”

Kemudian Seran mencari-cari tempat sampah mana yang dimaksud oleh Munaroh. Tak lama matanya mencari, ia menemukan satu tempat sampah tepat di depan kamar Munaroh. Ia pun membongkar tempat sampah itu untuk memastikan gosip tersebut. Tong sampah yang berisikan pembalut, sampah sisa makanan lengkap dengan tulang-belulang dan duri-deduri, ia bongkar satu-satu demi rasa ingin taunya yang tinggi.

Di sisi lain, Munaroh dan Bli nyaris saja tewas karena tertawa terlalu terbahak-bahak melihat aksi Seran bak detektif tersebut. Seran pun harus kecewa karena tak juga berhasil mendapati kantongan plastik berisi tai yang dimaksud oleh gosip hangat kampus. Kemudian, dengan tangannya yang tak jelas lagi warnanya setelah mengorek-ngorek keranjang sampah, ia menepuk pundak Munaroh sembari berkata.

“Naroh, lu kalo butuh sabun, butuh sikat gigi, pasta gigi, sampo, ato apalah, bilang aja ke gue.” katanya dengan tulus.

“Oke bro.” kata Munaroh sambil melanjutkan tawanya dan sambil mikir, “sebenernya tangan lu yang butuh sabun, bro.”

Akhirnya Seran pun pergi meninggalkan Bli dan Munaroh. Tampak ekspresi kecewa membentuk raut wajahnya. Bli dan Munaroh pun melanjutkan tawa mereka.

Shit in the Wardrobe, begitulah judul cerita yang kami ciptakan untuk kamar Munaroh yang bau tai karena susu yang membusuk. Bayangkan setahun lebih susu tersebut dibiarkan membusuk dengan kotak yang menganga di kamarnya yang nyaris tak ada udara di dalamnya.

Berbicara tentang kisah Munaroh, ini hanya satu bagian kecil saja. Munaroh selalu menciptakan cerita di tengah-tengah kami, dan kalo dapat izin lagi untuk nyeritain kisahnya, bakal banyak yang akan tertulis di blog ini.

 

Comment Policy in force from July 2013

Please kindly submit your thought below. I do really value your time and opinion about this article. But before submitting any comments, please read the following policies:

Please be aware that all comments are moderated and SPAM will not be published.

Comments must relate to the post topic.

Please use only your real name (not keywords), real email address and website URL on the available forms.

Don't embed URL right inside the comment form, unless your comment will not be approved.

If you are going to spam my inbox, make it worth your while ;)

 

2 Comments

  1. Tp kata seran dengan sumpahannya: “sumpah beneran ada, gw liat dengan mata kepalaku sendiri”
    Diharapkan bagi pihak terkait untuk memberikan tanggapannya

Submit a comment

Scroll Up
error: Oopps . . . Lagi Error Cuk!