Story of a Friend: I’m a Coward, Yes I am!

Kampus

Bintik lentik di segaris mata indahmu

Kupandangi itu dan kau tetap tersenyum

Senyum tulus

Senyum gembira

Ekspresi kasih yang melekat dalam diri murnimu

Di titik hitamnya aku bisa melihat masa lalumu

Meski tetap kutatap titik itu berharap akulah masa depanmu

Aku memang cemburu, dengan dia yang terbiasa membelaimu

Dengan dia yang terbiasa merasakan belaianmu

Kepadanya tetap kau titip hatimu

 

Kuperhatikan lekuk wajahmu

Kuperhatikan garis bibirmu

Namun kau tak melihat ekspresiku

Mungkin belum

Atau mungkin takkan pernah

Dirimu dari virtualnya sangat nyata

Pikiran menumpuk kepalaku saat kupandang kotak kecil berisi dirimu itu

Meski jauh

Meski aku tahu mimpi buruk akan selalu memeluk setelahnya

Kukabarkan kepada sahabatku

Tentang cantiknya kau di dunia seberang

Mereka juga kagum

Mereka juga tersenyum, mengikut tulusnya senyummu

Kubagikan impianku bersamamu dengan mereka

Mereka setuju

Mereka mendukung

Bahkan semesta pun ikut mendukung, mestakung!

 

Kuperintah kumpulan atom menyelimuti dirimu dan diriku

Namun konsistensimu menghempaskan semuanya

Pintarnya hatimu memilih mengabaikan semuanya

Atau mungkin pikiranmulah si pintar itu

Mampu membuat hati ini tak kunjung pulih

Mampu membuat tulusnya hati ini tetap memilih

Meski kau belum tahu seberapa tulus hati ini kusisih

 

Aku bangga bila hanya bertegur sapa

Itu pun jika kau mau membalasnya

Tapi keinginan sangat jauh dari fakta

Mimpi sangat berbalik dengan realita

 

Di masa yang kelam sekalipun pasti ada yang membawa cahaya

Di setiap tragedi selalu ada yang bergembira

Padang pasir pun selalu menyediakan air untuk pengembara

Tapi, siapa yang membawa cahaya itu?

Orang seperti apa yang bergembira itu?

Pengembara seperti apa pengembara itu?

Aku mungkin gila

Tapi dirimulah yang membuatku tergila-gila

 

Akulah si pengecut

Pecundang pun katamu aku tak terkejut

Jauh di sisi terang diriku,

Selalu kuberimajinasi akan masa depanku denganmu

Selalu aku memikirkan langkahku untuk mendekat padamu

Tapi ketakutan sepertinya lebih besar dari perasaan

Begitulah mereka selalu menyimpulkan

Gara-gara kau aku diucap pengecut dan pecundang

Demi perhatianmu aku nyaris dilaknat

Benar mereka berucap, memang

 

Tapi jika pun bisa

Aku akan tetap menyediakan tempat di hatiku

Untukmu sebagai kekasihku

Sebagai masa depan dan ibu dari anak-anakku

Cepat atau lambat kau akan tahu

Setidaknya itulah yakinku selalu

Berdoalah untukku agar selalu kuat berjuang demimu

Demi tancapan prasasti di hatiku bertulis namamu

 

“I’m a Coward, Yes I am” – written by Walter Pinem. This is how I describe your feeling to her. Story of a Friend, story of D.S.G.

 

Comment Policy in force from July 2013

Please kindly submit your thought below. I do really value your time and opinion about this article. But before submitting any comments, please read the following policies:

Please be aware that all comments are moderated and SPAM will not be published.

Comments must relate to the post topic.

Please use only your real name (not keywords), real email address and website URL on the available forms.

Don't embed URL right inside the comment form, unless your comment will not be approved.

If you are going to spam my inbox, make it worth your while ;)

 

Submit a comment

Scroll Up
error: Oopps . . . Lagi Error Cuk!