Cerita Perantau: [Real] Friends Will Be Friends

Kampus

Friends will be friends
When you’re in need of love they give you care and attention
Friends will be friends
When you’re through with life and all hope is lost
Hold out your hand ‘cos friends will be friends – right ’till the end

written by Freddie Mercury & John Deacon – Queen

Empat tahun berlalu, sumpah serapah sepenuh hati dari masa lalu. Kutinggal tanah kelahiran, tanah pertumbuhan, dan keluarga yang sepenuh hati masih menjaga kenanganku. Kumulai menginjak kota dan suasana baru, menggenggam doa dari orang-orang tersayangku. Budaya baru, bahasa baru dan pergaulan baru.

Hari itu adalah hari kelabu bagiku. Karena banyak harapan pihak yang memelukku, selalu kuberikan upaya terbaikku. Baiklah. Aku tinggal di bawah atap sederhana. Tidur di kasur sederhana. Diselimuti kain sederhana. Hari itulah aku memulai hidup sebagai perantau, sebagai anak kost yang seribu lipat punya cerita sendu.

Dunia perkuliahan perlahan mulai kucicip. Dunia perantauan terasa menyenangkan di awal, menyiksa selanjutnya. Uang kiriman mengalir setiap bulannya, cukup tak cukup sepintarku memanfaatkannya. Ada kalanya aku tak makan demi menghematnya. Di satu kisah, teman-teman mulai berdatangan ke kehidupan yang bagai cerita fana.

Kuterima dengan baik semuanya. Bahkan kugantungkan harapanku pada mereka, agar bisa bekerjasama, agar bisa mendukungku menjalani kehidupan. Tak terasa waktu berjalan. Semua temanku perlahan mulai menunjukkan citra aslinya. Aku dan semua temanku merasakan tawa yang sama, tapi hanya beberapa yang bersedia menghadap duka.

Peluhku mengalir deras di suatu masa, oleh karena saatnya tiba menahan lapar yang sebelumnya tak pernah kurasa. Bahkan dihadapkan pada seribu masalah. Perlahan aku mulai rindu suasana rumah. Kehangatan peluk dan perhatian orang tuaku menjadi busur panah. Baiklah, sumpah serapah masa lalu harus terus kupapah. Takkan kuberhenti sebelum waktunya datang memapah.

Satu per satu masalah mulai teratasi, sendiri. Teman-temanku yang dulu meninggalkan mulai berdatangan lagi. Memberi kabar ketika perlu bantuan. Senang di sana, mulai meninggalkan. Aku pun menjadi pintar. Pintar memilih mana yang bisa dipercaya mana yang hanya butuh senang sekedar.

Satu per satu temanku mulai menarik diri dari kebisingan kami selama ini, lagi. Tak ada maksud mencampakkan diri, dan kubiarkan kaki ini terus menopang berdiri. Kusadari, aku tak perlu teman membanjiri, Aku tak perlu teman banyak tapi hanya menyakiti. Bertahan dengan teman seperjuangan bila sedikit sudah kuputuskan, beberapa yang bisa kupercaya dan siap menantang sulitnya perjuangan.

Temanku pun tak sebanyak dulu. Meski sedikit, aku butuh apapun mereka siap membantu. Aku dihadapkan pada ‘pengkhianat’ pun mereka memasang badan untuk melindungiku.

Banyak hal yang bisa kupelajari dari semua. Uang bukanlah segalanya, namun itulah masalah utamanya. Uang dituhankan, melihat temannya kesusahan pun mereka tertawa dengan uangnya. Mereka melakukan tindakan dengan uangnya, meraih dengan uangnya, dan berdoa dengan uangnya.

Tuhan kah uang itu?, teriak hatiku suatu kala. Tinggal serumah kukira sudah saling percaya, tapi lagi malah kurasakan duka. Aku tak tahu menyebutnya, tapi perlahan aku mulai murka. Ada yang rela menjual temannya demi hartanya. Memakan teman saja mereka sanggup, apalagi memakan harta?

Semula, harapku adalah agar bisa bekerjasama, berjuang, dan merasakan tawa-duka bersama-sama. Namun, aku yang perlahan terbentuk dewasa diajak melek terhadap fakta. Bukan teman jika rela mempertahankan harta dalam kebersamaannya. Bukan teman jika rela membiarkan temannya tersiksa. Diriku yang dulu punya banyak teman memang merasa bangga, namun tak semuanya bisa kupercaya membuat mata terbuka. Aku kini menjadi pemilih dalam pertemanan, terserah padamu hendak berbicara apa.

Temanku adalah keluargaku di perantauan, yakinku selalu. Namun tak semua sesuai dugaanku, tak sesuai dengan pikirku. Aku yang dewasa kini membuat pilihan semu, terhadap mereka yang bisa menjadi topanganku, dan menjadi topangan mereka yang percaya padaku.

Tertanam dalam hatiku kini: tak perlu memiliki teman seribu definisi dengan kesombongan ucapan yang tak henti, cukup beberapa yang bisa dipercaya dan sesuai hati. Semoga kita bisa sehati, melalui lirik di bawah ini agar kita tak lagi tersakiti:

[Real] “Friends will be Friends, right ’till the end” – Freddie Mercury & John Deacon of Queen

 

Comment Policy in force from July 2013

Please kindly submit your thought below. I do really value your time and opinion about this article. But before submitting any comments, please read the following policies:

Please be aware that all comments are moderated and SPAM will not be published.

Comments must relate to the post topic.

Please use only your real name (not keywords), real email address and website URL on the available forms.

Don't embed URL right inside the comment form, unless your comment will not be approved.

If you are going to spam my inbox, make it worth your while ;)

 

Submit a comment

Scroll Up