Pendakian ke Gunung Merbabu, Jawa Tengah Sebuah Catatan Pendakian ke Gunung Terindah di Jawa Tengah

Traveling

Gunung Merapi, Padang Rumput, dan Bunga Edelweiss

Pendakian ke Gunung Merbabu, Jawa Tengah: Perjalanan Ke Puncak Menantang Merapi – Bagiku, perjalanan yang paling bisa dinikmati adalah perjalanan menikmati alam.

Mungkin sama dengan sebagian besar orang. Perjalanan atau Pendakian ke Gunung Merbabu ini merupakan salah satunya. Perjalanan yang kuceritakan ini tak serta-merta menjadikanku sebagai seorang traveler, atau bahkan pendaki gunung.

Aku bukan anak gunung meski perjalanan dalam menaklukkan Puncak Kentheng Songo di Gunung Merbabu membuatku ketagihan untuk mengulangnya lagi di gunung yang berbeda.


 

“Great things are done when men and mountains meet.”

William Blake

 


Pendakian ke Gunung Merbabu: Awal Dari Pendakian Pertamaku

Beberapa minggu setelah aku wisuda, teman-teman yang baru saja kukenal menyusun rencana untuk menaklukkan Puncak Gunung Merbabu. Awalnya tentu saja aku ragu bahkan takut karena tidak pernah sekalipun aku melakukan pendakian.

Setelah mendengar cerita tentang pengalaman-pengalaman mereka yang sudah menaklukkan semua gunung di Jawa Barat, bak sales handal mereka mengundangku untuk turut serta, maka aku kemudian memastikan diri untuk ikut.

Rasa penasaran untuk menaklukkan gunung pertamaku ternyata lebih besar dari rasa was-wasku. Teristimewa karena pengaruh cerita menarik mereka. Akhirnya waktu dan meeting point pun ditentukan.

Transportasi juga sudah disiapkan. Alhasil, 10 orang lelaki tampan dan seorang wanita tangguh menjadi jumlah total tim pendaki kami yang waktu itu akan menaklukkan Puncak Merbabu.

Dan perlu diketahui, tak satu pun di antara kami yang sudah pernah menaklukkan Puncak Merbabu sebelumnya. Rasa penasaranku yang ketika itu belum pernah mendaki gunung sama besarnya dengan rasa penasaran kolegaku yang sudah belasan kali melakukan pendakian.

Rasa penasaran yang sama besar di antara kami semua menjadi modal kuat untuk melakukan Perjalanan ke Gunung Merbabu.

Akhirnya, dengan biaya tiket Rp 100.000 per orang menumpangi kereta kelas ekonomi dari Stasiun Kereta Api Kiara Condong, Bandung pulang-pergi ke Stasiun Kereta Api Kutoarjo, Magelang, sudah dipesan.

Pendakian ke Gunung Merbabu pun dimulai. Dari Bandung kami berangkat tepat pukul 21:00 WIB. Kereta pun berangkat. Kurang-lebih 7,5 jam perjalanan, sekitar pukul 04:30 WIB kami tiba di stasiun tujuan. Segera kami mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan.

Sarapan, toilet, bekal perjalanan, rokok bagi yang perokok, membongkar ulang carrier, hingga informasi seputar lokasi yang harus ditempuh agar tiba, semuanya sudah siap dalam 1 jam.

stasiun kutoarjo menuju gunung merbabu
Stasiun Kutoarjo, Magelang

Kami kemudian menyewa sebuah angkutan umum untuk mengantarkan kami ke pasar terdekat demi memenuhi keperluan logistik sekaligus mengantar kami ke terminal berikutnya untuk menuju ke pintu masuk pendakian.

Akhirnya dalam perjalanan kurang lebih 45 menit, kami pun menyewa mobil dari pintu masuk pendakian menuju basecamp melalui Jalur Wekas. seharga Rp 150.000. Setelah mendaftar masuk ke basecamp seharga Rp 1.000 per orang berikut fotokopi KTP, kami pun mulai mendaki. Pendakian pertamaku pun dimulai.

Jalanan yang harus ditempuh cukup terjal, tapi di awal, jalannya masih bagus dengan plester semen karena masih berada di sekitar pemukiman warga. Beberapa jam kemudian, kami tiba di Pos 1 Telaga Anum dan berhenti sejenak untuk makan siang. Di Pos 1 kami berhenti untuk sekedar menikmati kopi, sereal energi, mie instan, dan tentu saja berfoto. Sepanjang perjalanan banyak sekali kami jumpai pohon bunga edelweiss.

Belum ada bekas petikan bunga indah tersebut yang kami temukan sehingga kami juga tidak berani memetiknya (dan tentu ada larangan akan perusakan flora di sekitarnya).

Di kiri-kanan sepanjang jalan setapak yang kami tempuh, tanaman anggrek juga kami temukan menempel di pohon-pohon besar. Suasananya sangat tenang dan nyaman. Belum lagi kami beberapa kali menjumpai mata air yang mengalir deras begitu saja.

Ada banyak spot yang bisa digunakan untuk berteduh menikmati hutan yang dilindungi itu, tetapi karena kami sadar bahwa kami harus sampai di Pos 2 sebelum hari gelap, maka tak ada waktu untuk meneduh berlama-lama.

Pos 2 nan Syahdu, Gunung Merbabu

Dengan perbincangan seru dan tawa sepanjang perjalanan membuat beban pendakian tak begitu terasa, akhirnya kami tiba di Pos 2, tempat di mana kami mendirikan tenda untuk menginap semalam sesuai rencana. Puncak Merbabu masih jauh dan tak terlihat karena dihalangi oleh bebukitan yang mengelilingi Pos 2.

Untungnya di Pos 2 terdapat mata air yang sudah dipipa, sehingga kami semua mengantri untuk menikmatinya. Sekedar membilas badan, mencuci muka, hingga melepaskan dahaga dengan air pegunungan jernih tersebut.

pos 2 gunung merbabu
Pos 2 Gunung Merbabu
pos 2 gunung merbabu 2
Persiapan Memasak di Pos 2 Gunung Merbabu
pos2 gunung merbabu
Pagi Hari di Pos 2

Pendakian ke Gunung Merbabu pun tampaknya semakin berat. Satu malam di kaki gunung. Dua tenda didirikan dan satu lagi hanya bisa dijadikan bivak.

Semua orang sibuk mendirikan tenda, mempersiapkan peralatan makanan, membuat api unggun, berkeliling mencari kayu bakar, hingga memasak.

Karena tenda yang bisa didirikan hanya 2 yang masing-masing hanya mampu ditiduri maksimal 4 orang maka harus ada sebagian orang yang tidur di bivak dengan tumpukan carrier dan ada lima orang yang harus saling bergantian tidur di tenda (sesuai rencana).

Ketika itu aku sudah sangat lelah karena tidak ada persiapan latihan fisik sebelumnya, dan juga malam di sana sangat dingin, maka beranjak tidur duluan di dalam tenda adalah pilihan terbaik bagiku kala itu.

Ada dua orang yang harus menunggu hingga tengah malam agar bergantian denganku dan yang lain. Sekitar pukul 01:00 WIB dini hari, aku dan dua orang temanku yang tidur dalam satu tenda bergantian dengan dua orang yang tadinya menunggu di antara api unggun.

Sayangnya, api unggun tersebut nyaris mati dan kami harus mencari ranting lagi sebagai bahan bakarnya. Beberapa menit berjuang di tengah dinginnya malam untuk menyalakan api, akhirnya api tersebut nyala. Saat itu kami hanya bertiga saja di luar.

Ketika aku bangun, aku baru menyadari bahwa di sekitar tenda kami sudah ada sekitar 7 tenda dari pendaki lain yang sudah berdiri mengelilingi kami.

Ketika itu masih ada orang yang mencari-cari kayu bakar, rombongan pendaki lain yang baru saja tiba di Pos 2, dan rombongan pendaki yang melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya, membuat malam turut pada keramaian.

Sambil menikmati api unggun dini hari di Pos 2, kaki Gunung Merbabu, kami juga menikmati kopi, lagu lawas, dan tentu saja rokok. Saat itu malam menjelang pagi benar-benar sangat dingin sehingga dua lapis baju belum cukup untuk terhindar dari parahnya suhu.

Masing-masing kami menggunakan tidak kurang dari 4 lapis baju dan kain sebagai pelindung dari ekstrimnya suhu kala itu. Menjelang pagi hari, ketika matahari perlahan muncul dari balik bukit, satu per satu teman pendaki kami dan anggota rombongan pendaki lainnya bangun dan bergabung dengan keramaian kala itu.

Indahnya hari membuat kami sangat khusyuk dalam menikmati suasana di sana. Sangat indah, teduh, dan nyaman.

Spot Terindah di Antara Puncak Kentheng Songo dan Syarief: Pendakian Berlanjut . . .

Pendakian ke Gunung Merbabu pun berlanjut. Setelah semua anggota pendaki kami bangun, kami pun langsung mempersiapkan barang-barang, merapikan tenda, dan beranjak melanjutkan perjalanan. Kali ini perjalanan untuk mencapai puncak jauh lebih melelahkan dari hari sebelumnya.

Jalanan terjal, bebatuan yang begitu besar harus dilalui, kemiringan jalur juga menjadi faktor lain yang sangat menguras tenaga. Banyak sekali spot indah untuk dinikmati di sepanjang perjalanan, dan tentu saja kami tak ingin melewatinya.

Kami meneduh di beberapa spot yang menurut kami sangat nyaman sekaligus bagus untuk menikmati pemandangan. Tadinya kami ingin berhenti sejenak menikmati santapan pengisi tenaga sebelum mencapai puncak, tetapi suasana kala itu sangat tidak kondusif untuk melakukannya.

Karena itu, dengan tenaga yang hanya tinggal beberapa lapis saja, kami pun berusaha mencapai puncak sebelum hari gelap. Tepat sebelum mencapai puncak, kami memantapkan diri untuk saling menunggu anggota pendaki kami di sebuah spot antara Puncak Syarief dan Puncak Kentheng Songo.

Sambil menunggu, kami memasak mie instan aneka rasa dijadikan satu, bercampur dengan debu ketika kami memakannya karena ketika itu cuacanya kemarau, dan tentu saja kami membuat sereal energi serta kopi. Di sana kami bertemu dengan rombongan asal Jakarta yang terdiri atas 7 orang, 4 lelaki biasa saja dan 3 wanita aduhai.

Dua di antara wanita tersebut baru saja wisuda sehingga perjalanan ke Merbabu kala itu adalah perayaannya. Kami cukup akrab dengan mereka lewat pertukaran cerita.

Baca Juga: Pantai Ladeha, Surga Tersembunyi di Pesisir Selatan Pulau Nias

Kembali ke bagian sebelumnya, di spot itu, yang bisa dikatakan salah satu bagian Puncak Merbabu, kami bisa menikmati pemandangan yang luar biasa bagus.

Di arah Yogyakarta, kami bisa melihat Gunung Merapi berdiri anggun dengan puncak yang lebih rendah dari tempat kami berdiri. Hamparan pemukiman warga Yogyakarta juga terlihat jelas, membentang hingga ke kaki Gunung Merapi.

Menatap ke arah Barat, terlihat tiga gunung terkenal. Tiga gunung itu adalah 3S yang populer, yakni: Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan di kejauhan jika cuaca baik samar-samar terlihat Gunung Slamet.

BACA JUGA: MENANJAKI GUNUNG CIREMAI, PUNCAK TERTINGGI DI JAWA BARAT

Tiga gunung itu membentang terlihat saling menantang. Awan dari puncak itu juga sangat bagus terlihat. Dari sana, kami juga bisa menikmati sunset. Hamparan awan dan gunung yang ada terlihat seperti kapal yang berada di tengah lautan. Tak lupa tentu saja kami berfoto-foto mengabadikan momen dan pemandangan yang ada.

puncak kentheng songo gunung merbabu
Penampakan Puncak Kentheng Songo, Tertinggi di Gunung Merbabu
antara kentheng songo dan puncak syarief gunung merbabu
Aye, Comrades!
awan gunung merbabu
Permadani Awan dari Gunung Merbabu

matahari gunung merbabu

walter pinem gunung merbabu
Walter Pinem
merbabu
Dari kiri ke kanan: Alsen, Walter, Bryan
sunset gunung merbabu 1
Pemandangan Sunset Dimulai

sunset gunung merbabu 3 sunset gunung merbabu 2 sunset dari gunung merbabu 4 sunset dari gunung merbabu 5 sunset dari gunung merbabu 6 sunset dari gunung merbabu 7 Setelah hari mulai gelap, kami berencana untuk menginap di Sabana II, tempat yang sangat nyaman untuk mendirikan tenda. Sekitar pukul 18:30 WIB kami mulai berkemas dan melanjutkan perjalanan.

Lautan lampu di arah Yogyakarta sangat indah terlihat dari sisi kiri kami. Bersama rombongan kami, ada rombongan dari Jakarta yang tadi disebutkan, juga melanjutkan perjalanan bersama kami. Ketika itu mereka yang berjalan duluan dan kami mengekor dari belakang.

Baca Juga: Pendaki ke Gunung Semeru, Jawa Timur

Beberapa ratus meter kami melangkah, dari jalur setapak itu di mana sisi kiri dan kanan kami adalah tempat terbuka, angin bertiup kencang sehingga membuat kami nyaris saja roboh.

Angin yang bertiupan saling bertabrakan, dari sisi satu dengan sisi lainnya bertabrakan, dan kamilah yang menjadi titik tabrakan angin itu.

Pendakian ke Gunung Merbabu: hypothermia Attacked . . .

Pendakian ke Gunung Merbabu kami saat itu sudah hampir selesai. Di jalur yang terkenal sebagai Jembatan Setan, kami dengan susah payah berjalan di sisi tebing, dengan sisi kirinya adalah jurang, untuk mencapai tujuan. Dengan memakan waktu beberapa menit, akhirnya kami berhasil melewatinya.

Aku sendiri sangat bergantung dengan penerangan dari senter teman-temanku karena senter yang kubawa tiba-tiba rusak. Dengan perjuangan yang lumayan berat, akhirnya kami berhasil melewati Jembatan Setan.

Rombongan dari Jakarta berhasil melewatinya lebih dulu, sehingga membuat jarak kami dengan mereka cukup jauh. Setelah kami benar-benar berhasil melewati Jembatan Setan, tiba-tiba rombongan pendaki Jakarta tersebut saling berteriak. Tentu saja membuat kami kaget dan sedikit ketakutan.

Baca Juga: Pendakian ke Gunung Slamet, Jawa Tengah

Setelah mendengar teriakan itu, kami cepat-cepat mendatangi mereka. Ternyata salah satu di antara mereka terkena hipotermia. Barang tentu, karena memang lokasi tempat kami berjalan tadi sangat terbuka, tidak ada penghalang sama sekali, sehingga angin malam di pegunungan yang berhembus kencang dengan mudahnya menghantam kami semua. Badannya membiru, wajahnya pucat, dan getaran tubuhnya tak beraturan.

Untungnya, 3 orang perempuan yang ada di rombongan mereka adalah lulusan Ilmu Keperawatan, sehingga tak terlalu susah bagi mereka untuk mengatasinya. Kami cepat-cepat mengeluarkan kompor portable untuk memanaskan air. Beberapa di antara mereka langsung meng-cover si korban.

Baca Juga: Pendakian ke Gunung Sumbing, Jawa Tengah

Puluhan tetes minyak angin, balsem, jaket dan selimut belum mampu membuatnya menjadi lebih baik, bahkan lebih parah karena malam semakin larut dan angin semakin kencang. Dengan kepanikan yang luar biasa, kami terus berusaha memanaskan air dan menjaga api di kompor agar tidak padam dihembus angin.

Karena lokasinya tidak berpenghalang, maka api kompor tidak fokus membakar di satu titik, sehingga membutuhkan lebih lama waktu agar air bisa dipanaskan dengan derajat yang cukup.

Karena spot itu terlalu sempit, kiri-kanan jurang, maka aku dan beberapa orang dari rombongan kami melanjutkan perjalanan hingga mencapai spot yang bagus untuk berhenti. Dua orang temanku mengorbankan jaketnya agar dikenakan oleh sang korban hipotermia.

Baca Juga: Menjelajahi Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah

Ternyata, di antara rombongan Jakarta, bertambah satu lagi korban hipotermia kala itu. Dua orang teman pendakiku menemani mereka sementara kami, ketika sampai di tempat yang tanahnya cukup datar, membuat api unggun dan tenda agar dengan cepat dapat dinikmati oleh para korban.

Untuk membuat api unggunnya juga membutuhkan perjuangan keras, mulai dari mencari kayu bakar dan pemantik bakaran, dan menjaga agar api tersebut tetap hidup.

Baca Juga: Wisata ke Tebing Keraton Bandung

Angin bertiup sangat kencang. Kami semua juga sudah sangat tidak sabar untuk menikmati api tersebut, barang tentu kami sudah tinggal 5 menit dari Puncak Kentheng Songo, puncak tertinggi di Gunung Merbabu, dengan suhu yang sangat dingin dan angin yang sangat kencang.

Untungnya, dua korban hipotermia tersebut berhasil membaik, dan mampu menyusul kami mendaki di tempat kami sudah menyelesaikan api unggun. Sebelumnya, dua orang teman pendakiku menyusul Tim SAR untuk meminta bantuan.

Waktu yang mereka butuhkan untuk tiba di pos Tim SAR adalah 11 jam pulang-pergi, sehingga kami sempat putus harapan dari bantuan tersebut.

Baca Juga: Kunjungan ke Floating Market Lembang

Kami pun memutuskan untuk mendirikan tenda di tempat itu, di tempat terbuka 5 menit sebelum mencapai Puncak Kentheng Songo, Gunung Merbabu. Akhirnya setelah mendekatkan diri di api unggun, dua korban hipotermia berhasil pulih.

Mereka pun kami anjurkan untuk duluan memasuki tenda yang sebelumnya sudah kami dirikan. Kami sendiri belum mendirikan tenda karena kami tadinya lebih memilih untuk melanjutkan perjalanan ke Sabana II dan mendirikan tenda di sana.

Ternyata karena berbagai hal, dan tentu saja diselingi oleh ketakutan kami atas keadaan korban hipotermia tadi, maka kami memutuskan untuk membatalkan rencana ke Sabana dan mendirikan tenda saja di tempat kami berpijak kala itu.

Pendakian ke Gunung Merbabu: Sedikit Pengalaman Menakutkan

Kami memilih tempat di pinggir jurang karena tempat itu masih diselingi oleh pepohonan kecil, sehingga sedikit menghambat derasnya angin bertiup. Saat mengeluarkan tenda dari dalam carrier-ku, aku melihat satu prasasti bertuliskan “In Memoriam” tepat di tempat kami akan bermalam.

Prasasti tersebut adalah tanda bahwa dia yang namanya tertulis di prasasti tersebut meninggal di tempat itu. Aku sendiri cukup ketakutan namun belum mau mengadu kepada teman-teman pendakiku.

Dan kami pun menginap tepat di dekat prasasti itu. Samar kami melihat di kejauhan cahaya lampu yang sepertinya muncul dari headlamp, ada dua titik cahaya, sedang bergerak menuju ke arah kami. Kami mengira bahwa mereka adalah dua orang teman kami yang sedang mencari bantuan Tim SAR, mungkin memutuskan untuk kembali.

Baca Juga: [Infographic] 10 Top Travel Hacks

Kami memberikan siulan, berteriak, untuk memberi sinyal kepada mereka. Kebetulan siulan itu adalah kode siulan kami untuk menunggu satu dengan yang lain saat melakukan pendakian sebelumnya, manakala kami terpisah dan saling menunggu atau mencari.

Terdengar kode siulan yang sama menyahut siulan kami di mana dua titik cahaya itu berada. Kemudian cahaya itu menghilang tiba-tiba. Kami berpikir bahwa cahaya itu menghilang karena terhalang oleh pepohonan atau semacamnya. Tetapi lama kami menunggu, cahaya itu sudah tak tampak lagi, dan siulan kami sudah tidak dibalas lagi.

Baca Juga: Solo Trip to Taman Alam Lumbini, Berastagi, Tanah Karo

Padahal jaraknya cukup dekat. Akhirnya kami memasuki sebuah tenda. Tenda yang tadinya hanya mampu didiami maksimal 4 orang kami gunakan untuk berteduh dengan total 8 orang (dari total 11 orang; dua orang pergi mencari Tim SAR dan seorang lagi tidur di tenda rombongan Jakarta).

Kami berdelapan hanya bisa duduk berhadapan sambil menekuk kaki, berusaha tidur di tengah dinginnya malam, di tengah getaran dan suara angin yang menerpa tenda kami. Sangat susah untuk tidur karena posisinya sangat tidak nyaman. Mungkin karena kami sudah sangat lelah, kami semua pun bisa tertidur meski tidak nyenyak sama sekali.

BACA JUGA: MENANJAKI GUNUNG CIKURAY

Tengah malam menjelang dini hari, aku dan beberapa orang temanku terbangun karena terdengar siulan kode yang kami gunakan. Sambil bersiul, salah seorang temanku juga melihat cahaya lampu yang sepertinya muncul dari headlamp, sama seperti sebelumnya, sedang bergerak di kejauhan berjalan menuju Puncak Kentheng Songo.

Temanku memanggilnya agar dia tahu kami menenda di mana. Ketika berusaha menjemput, cahaya, suara langkah kaki dan siulan berhenti dan menghilang tiba-tiba di jalan menuju puncak. Padahal temanku itu sudah sangat dekat jaraknya dengannya.

Baca Juga: A Day Trip Without Digital Tech

Pada saat itu temanku yang menyaksikannya tersebut belum menceritakannya kepada kami. Esok hari sepanjang perjalanan kami pulang barulah ia menceritakannya, yang kemudian membuat bulu kuduk kami merinding.

Puncak Kentheng Songo dan Akhir Dari Pendakian ke Gunung Merbabu

Setelah berhasil melewati malam kedua dalam perjalanan menaklukkan Gunung Merbabu, kami pun bangun untuk menikmati sunrise dari Puncak Kentheng Songo. Aku sendiri tidak begitu tertarik menikmatinya karena rasa kantuk dan lelah, serta dingin yang teramat menusuk, membuat aku lebih memilih untuk berada dalam pelukan sleeping bag di dalam tenda.

Tetapi sebelumnya aku juga menyaksikannya dari dalam tenda. Berkat posisi kami mendirikan tenda sudah berada di puncak, maka aku bisa menikmatinya dari dalam tenda tanpa harus susah payah menembus dinginnya pagi hari untuk menikmatinya dari Puncak Kentheng Songo.

gunung merapi
Pemandangan Gunung Merapi dari Gunung Merbabu

Setelah semuanya bangun, kami mempersiapkan sarapan. Aku sendiri tidak sarapan, dan lebih memilih menghabiskan waktu menikmati pemandangan di Puncak Kentheng Songo yang ternyata sangat dekat dari tempat kami mendirikan tenda.

Baca Juga: A Short Visit to Bira Island, Thousand Islands

Di malam hari tidak terlalu terlihat meski aku sudah tahu bahwa hanya akan butuh waktu 5 menit untuk sampai di puncak dari tempat kami mendirikan tenda. Sangat indah, dan aku betah berlama-lama di puncak.

Dari puncak, aku juga bisa melihat bahwa rombongan pendaki Jakarta sudah bangun, dan dua korban hipotermia sudah pulih sepenuhnya. Tiba waktu untuk bersiap-siap, aku kemudian turun dan menyusun perlengkapan aku, sementara hanya kopi yang tersisa. Alhasil, hanya tegukan kopi sajalah yang menjadi sumber energi aku untuk menuruni gunung kala itu.

gunung merbabu 5
Miring, bro!

 

menanjak merbabu
Daud ‘Mpie’
merbabu indah
Dari kiri ke kanan: Julian, Bryan, Daud ‘Mpie’

Akhirnya kami bersama-sama mendaki Puncak Kentheng Songo lagi,  di puncak tidak lupa kami mengabadikan momen. Setelah puas, kami menghadap Gunung Merapi untuk menuju pintu keluar pendakian. Aku betul-betul lebih menikmati pemandangan ketika pulang daripada ketika datang.

Sangat indah, terlihat bersih, apalagi terbuka karena terlihat tegapnya Merapi berdiri seperti bisa diraih hanya sekali jalan dari Merbabu. aku sangat semangat sebelumnya, karena aku pikir menuruni gunung jauh lebih mudah daripada mendaki gunung.

Ternyata fakta yang aku alami malah sebaliknya. 180 derajat lebih susah dan lebih melelahkan menuruni gunung daripada mendakinya. Apalagi carrier yang  kubawa sangat berat.

padang rumput merbabu
Padang Rumput Gunung Merbabu
gunung merbabu keren
Gunung Merapi, Padang Rumput, dan Bunga Edelweiss
gunung merapi dari merbabu
Gunung Merapi Menantang Kami
pos sabana gunung merbabu
Pos Sabana

Untuk menuruninya, ada satu jalur di mana jalurnya sangat curam. Sekitar kemiringan 65 derajat. Ketika aku berhasil turun dan melihat lagi ke belakang, terlihat bukan seperti jalur yang baik untuk jalur turun atau pun pendakian. Sangat curam, terlihat sama sekali tidak miring. Pos Sabana I dan Sabana II berhasil kami lewati.

Beberapa jam kemudian kami pun tiba di basecamp Jalur Selo. Beberapa saat kami beristirahat di sana. Setelah semuanya selesai, kami pun menyewa mobil pick up milik petani lokal untuk mengantarkan kami ke Stasiun Kutoarjo, Magelang, dari Boyolali, tempat kami keluar dari Gunung Merbabu Ternyata, jadwal dan target dari rencana awal yang sudah kami susun hancur berantakan karena kami terlambat mencapai pos terakhir di Boyolali.

Hal tersebut karena kami tadinya memang harus menginap di Pos Sabana I atau Sabana II, tetapi karena ada korban hipotermia yang tentu saja tidak mungkin kami tinggalkan, maka kami harus menginap di dekat Puncak Kentheng Songo.

Baca Juga: Pendakian Gunung Sumbing: Menggapai Puncak, Melawan Ketakutan

Akhirnya, mobil pick up yang dikebut kencang memang tidak akan mampu mengantar kami tiba dari Boyolali ke Magelang, sehingga kami ketinggalan Kereta Api yang tiketnya memang sudah kami persiapkan pulang-pergi.

Oleh karena itu kami harus membayar tiket Rp 50.000 lagi dan harus menginap satu malam di stasiun.

Untungnya di malam hari, stasiun tersebut sangat sepi, sehingga bangku tunggu penumpang bisa kami gunakan sebagai alas tidur. Aku dan dua orang teman tidur paling larut karena kami menyempatkan diri bertukar cerita sambil membuat kopi dengan kompor portable.

Akhirnya pagi tiba dan stasiun sudah sangat penuh dengan sesama penumpang.

Pukul 08:00 WIB keberangkatan, kami siap mengakhiri perjalanan ke Gunung Merbabu dan kembali menghadapi realita hidup menuju Bandung, melanjutkan kegiatan sehari-hari.

perjalanan turun gunung merbabu
Sampai bertemu lagi, Gunung Merbabu!

Perjalanan pertamaku mendaki gunung adalah mendaki Gunung Merbabu, di mana aku mampu menantang tegapnya Gunung Merapi berdiri dari puncaknya.

Rincian Biaya Pendakian ke Gunung Merbabu:

Total biaya yang aku keluarkan untuk menaklukkan Gunung Merbabu dari Bandung adalah Rp 350.000, lengkap dengan biaya tak terduga. – Rp 150.000 tiket kereta api kelas ekonomi Kiara Condong, Bandung – Kuntoarjo, Magelang pulang-pergi, dengan Rp 50.000 adalah tambahan tiket karena keterlambatan. – Rp 100.000 untuk persediaan rokok, mie instan, kopi, dan biaya logistik lainnya, termasuk biaya tak terduga lain. – Rp 100.000 untuk total biaya transportasi dari Kuntoarjo, Magelang menuju pintu masuk pendakian serta transportasi dari Boyolali menuju Kutoarjo, Magelang.

  1. Total Transportasi ke Gunung Merbabu dari Bandung: Tiket kereta api kelas ekonomi dari Stasiun Kiara Condong Bandung – Stasiun Kutoarjo, Magelang: Rp 150.000 pulang-pergi _ (+ Rp 50.000 biaya keterlambatan).
  2. Total Biaya Logistik: Rp 100.000
  3. Total Biaya transportasi dari Stasiun Kutoarjo, Magelang ke Pintu Masuk Pendakian ke Gunung Merbabu & transportasi dari Boyolali menuju Stasiun Kutoarjo, Magelang: Rp 100.000

Rincian biaya pendakian ke Gunung Merbabu tersebut adalah rincian biaya pendakian per orang, dari Bandung

Biaya pendakian ke Gunung Merbabu dari Jakarta mungkin agak sedikit ber-margin, dibandingkan dengan biaya perjalanan ke Gunung Merbabu dari Bandung, dan transportasinya pun bisa langsung naik kereta api dari Stasiun Gambir atau pun Stasiun Senen.

Baca: Wisata Singkat ke Stone Garden, Padalarang, Bandung

Begitulah cerita pendakian ke Gunung Merbabu kami, dan beberapa informasi penting yang mungkin berguna bagi kalian yang merencanakan pendakian ke Gunung Merbabu. Terima kasih sudah membaca.

On STELLER @WLTRPNM

 


Baca Juga:

Tips Mendaki Gunung Untuk Siapapun

 

Comment Policy in force from July 2013

Please kindly submit your thought below. I do really value your time and opinion about this article. But before submitting any comments, please read the following policies:

Please be aware that all comments are moderated and SPAM will not be published.

Comments must relate to the post topic.

Please use only your real name (not keywords), real email address and website URL on the available forms.

Don't embed URL right inside the comment form, unless your comment will not be approved.

If you are going to spam my inbox, make it worth your while ;)

 

Submit a comment

Scroll Up