Menanjaki Gunung Ciremai 3.078 mdpl Menikmati Terjalnya Tanjakan Menuju Puncak Ciremai

Traveling

Pemandangan Dari Puncak Ciremai

Gunung Ceremai atau yang lebih sering di-‘oral’-kan dengan Gunung Ciremai memiliki ketinggian sekitar 3.078 meter di atas permukaan laut (mdpl), berlokasi di tiga kabupaten yakni Cirebon, Majalengka, dan Kuningan, merupakan gunung yang memiliki puncak tertinggi di Jawa Barat. Selain memiliki puncak tertinggi di seluruh Jawa Barat, isu-isunya Gunung Ciremai juga merupakan gunung ‘terseram’ atau ‘terngeri’ di Jawa Barat. Kesan atau ‘label’ terseram tentu bukan tanpa alasan. Banyak hal yang pernah terjadi di Gunung Ciremai, mungkin saja, tetapi label terseram tersebut tak membuat mental kami ciut kala itu untuk segera menaklukkannya. Rasa penasaran kami ternyata jauh lebih besar ketimbang berbagai macam hal yang menjadi penghalang petualangan kami ke Gunung Ciremai kala itu.


 

“It is not the mountain we conquer, but ourselves.”

Edmund Hillary

 


getting ready to ciremai
Dari Kiri ke Kanan: Walter Pinem, Fandy Liwu, Hendra Sirait, Tyo Stefanus, Boniifasius Falakhi

Pada satu waktu di bulan Juli yang cerah aku dan 6 orang teman berkesempatan menanjaki Gunung Ciremai, meski gunung tersebut pada saat itu hanyalah alternatif dari rencana pendakian kami yang sebenarnya. Awalnya kami ingin menyiksa diri menikmati keindahan di Gunung Sindoro dan Gunung Prau di Jawa Tengah. Awalnya pula tim kami yang berisikan 5 orang saja semuanya sudah sepakat untuk jauh-jauh ke Jawa Tengah demi menaklukkan dua gunung indah tersebut. Namun ternyata Gunung Sindoro tutup pada saat itu dikarenakan kemarau, dan ‘hanya’ mendaki Gunung Prau saja terasa hanya membuang-membuang ongkos saja. Dan kebetulan rata-rata gunung di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur ditutup. Padahal perlengkapan semuanya sudah di-pack, fisik dan kantong sudah sangat siap, kebetulan batere kamera juga sudah penuh :D.

Karena kami memang tidak pernah merencanakan pendakian jauh-jauh hari sebelum hari H, akhirnya daripada semuanya sia-sia, hari itu juga kami memutuskan untuk mendaki Gunung Ciremai. Selain karena tidak terlalu jauh dari Bandung, ongkos yang harus kami keluarkan untuk ke sana juga bisa kami hemat untuk melanjutkan pendakian ke gunung yang lain. Intinya keputusan kami saat itu sudah tepat, dan karena lokasinya dekat dari Bandung, 2 orang teman yang lainnya bergabung.

Besok sorenya setelah memutuskan untuk mendaki Ciremai, tepat pada malam Tarawikh di bulan Juli 2015,  kami berangkat. Dari Terminal Cicaheum, Bandung kami menaiki sebuah angkutan Elf menuju Kabupaten Majalengka. Waktu keberangkatan kami pada saat itu memang sangat tidak tepat. Selain karena angkutan semuanya penuh, ongkos pun tentu saja naik. Dan biaya angkutan yang kami tumpangi pada saat itu naik 100% dari yang biasanya Rp 25.000,- menjadi Rp 50.000,- per orang. WOW!! Setelah beberapa jam menunggu angkutan yang muat menampung kami bertujuh, akhirnya tersedia satu angkutan Elf,  kebetulan yang terakhir menuju Majalengka. Itu pun 3 orang teman terpaksa duduk di atas Elf karena kursi yang tersedia di dalam sudah tak ada.

Baca Juga: Menanjaki Gunung Cikuray

Setelah 4 jam bertambah tua di atas Elf, kami tiba di Majalengka. Nasi Kuning Bu Maryam di Terminal Majalengka menjadi penambah tenaga terakhir malam itu. Sekitar 1 jam beristirahat di Terminal, kami pun memulai perjalanan dari Terminal menuju Pos 1 Gunung Ciremai (Lewat Jalur Apuy). JAUH BROOOHHH!!!! Ramainya suara Tarawikh dan tabuhan gendang menemani perjalanan kami. Membuat kami menjadi lebih berani menembus gulitanya malam waktu itu.

Tiba di Pos 1 Berod ketika ingin mendaftar pendakian sekaligus beristirahat, ternyata tidak ada orang. Gelap gulita seperti makam (jujur saja). Kebetulan di pos pendaftaran tersebut terdapat nomor ponsel para pengurus Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), berikut para ranger. Akhirnya kami langsung menghubungi sang ketua, Pak Indi, dan ia mengatakan untuk langsung menuju Pos 1 menjumpai kami. Baik dan ramah sekali Pak Indi ini, rela menembus gelap dan dinginnya malam sekaligus memberikan briefing singkat kepada tim pendaki yang tidak sabaran menunggu Musim Lebaran usai ini. Pak Indi juga menjelaskan berbagai pantangan yang ada untuk dihindari selama pendakian. Dan Pak Indi juga membiarkan kami untuk beristirahat di dalam Pos Pendaftaran yang biasanya ia jaga, tempat yang sangat hangat dan nyaman bagi kami semua.

IMG_9925
Pos Pendaftaran, Pos 1 Berod
Pos 1 Berod 1
Persiapan di Pos 1 Berod

Karena kondisi kami sudah luar biasa lelah, akhirnya kami menyisihkan semalam untuk menginap di Pos 1 Berod. Di pagi hari, setelah semuanya siap, kami mulai mendaki. Dari Pos 1 Berod ke Pos 2 Arban tidaklah jauh, hanya memakan waktu sekitar 20 menit. Ketika tiba di Pos 2 Arban barulah kami menyadari dan merasakan, bahwa di Gunung Ciremai pada saat itu hanya ada kami bertujuh. Memang pada saat kami mulai mendaki, merupakan hari pertama Lebaran, jadilah semuanya sibuk berpesta kemeriahan di tempat masing-masing, tidak di Gunung Ciremai. Hanya kami bertujuh saja yang merayakan Lebaran di Gunung Ciremai.

Baca Juga: Perjalanan ke Gunung Merbabu Menantang Merapi

Oh ya, jalur dari Pos 1 ke Pos 2 masih sangat enak, masih sangat biasa. Dari Pos 2 menuju Puncak Gunung Ciremai semuanya berubah total. Jalur menanjak dengan total sekitar 90% tanjakan menjadi jamuan ternikmat yang harus dinikmati ketika mendaki Ciremai. Dari Pos 2 ke Pos 3 Tegal Masawa, kita sudah resmi memasuki hutan. Tidak seperti jarak pos sebelumnya, dari Pos 2 ke Pos 3 memakan waktu sekitar 45 menit hingga 1 jam. Ada beberapa spot yang kami kira Pos 3, ternyata tidak! PHP sekali Pos 3 ini. Setelah tiba, kami memutuskan untuk beristirahat sebentar untuk sekedar menikmati kopi, ngerokok, dan mengeringkan pakaian yang terbasahi keringat. Dari Pos 3 Tegal Masawa menuju Puncak Ciremai, masih ada 3 pos lagi yang harus dilewati.

Gunung Ciremai

 

Setelah melewati Pos 4 Tegal Jamuju dan tiba di Pos 5 Sanghyang Rangkah, kami berhenti sejenak untuk berdiskusi: apakah melanjutkan pendakian untuk mendirikan tenda di Gowa Walet (Pos 6) atau mendirikan tenda saja di Pos 5 ini? Dengan suara terbanyak, akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda di Pos 5 saja. Waktu itu kami tiba di Pos 5 sekitar pukul 4 sore, atau 4.5 jam setelah kami berangkat mendaki dari Pos 1. Dengan alasan bahwa kami semua sudah sangat lelah, dan hari masih sangat terang untuk mendirikan tenda, mencari kayu bakar, dan menyiapkan segala keperluan untuk menyambut malam, kami memutuskan untuk bermalam di Pos 5.

Gunung Ciremai Pos 5
Tiba di Pos 5, Kesempatan Jemur Pakaian
Gunung Ciremai Pos 5 Tenda
Mendirikan Tenda di Pos 5

Di malam hari kami berwacana untuk berangkat subuh sekitar jam 3 pagi agar tiba di puncak lebih cepat dan sempat menikmati Sunrise, ternyata wacana tersebut hanyalah wacana karena kami semua kebablasan. Kami tidur terlalu nyenyak hingga babi hutan yang mencakari tenda bagian luar kami dengan moncongnya tak kami rasakan. Dan sekitar pukul 4.30 kami melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Sekitar pukul 6.15 kami tiba di Puncak Ciremai, disambut dengan silaunya matahari terbit yang sudah cukup tinggi melayang sehingga berkurang keindahannya, juga disambut dengan derasnya tiupan angin di atas puncak mengantarkan bau belerang yang samar tercium. Tiupan angin tersebut sukses menampar wajah kami, juga nyaris menumbangkan kami satu per satu berikut keril yang kami bawa.

Puncak Ciremai
Saat Tiba di Puncak Ciremai
Puncak Ciremai 2
Menahan Derasnya Tiupan Angin
Puncak Ciremai 1
Pemandangan Dari Puncak Ciremai
Puncak Ciremai 4
Fandy Liwu
Puncak Ciremai 5
Tyo Stefanus
puncak ciremai boa
Boa Falakhi
puncak ciremai
Bonifasius Falakhi
puncak ciremai bryan
Bryan Fau
puncak ciremai hendra
Hendra Sirait
siip
Walter Pinem

DSC_0192

Puncak Ciremai 7

Puncak Ciremai 6
Tim Pendaki Kosan BJ35

Segala pengorbanan, kesusahan, penderitaan, dan lainnya yang rasanya tidak enak terbayar sudah. Puncak Ciremai yang sangat indah melunasi semuanya yang harus kami bayar di perjalanan menujunya. Dari atas terlihat awan menumpuk bagai permadani, Gunung Cikuray terlihat tegap menjulang, Gunung Slamet terlihat sangat menantang, dan di baliknya samar terlihat Gunung Sindoro dan Sumbing. Terlihat pula Gunung Guntur dan Papandayan dengan samar, berbagai bukit dan pertanian warga, juga peradaban warga di sekitar 3 kabupaten yang sebelumnya sudah disebutkan. Beberapa jam setelah menikmati suasana di atas Puncak Ciremai, kami pun berlomba turun untuk melanjutkan peristirahatan di Pos 5.

Pos 5 Gunung Ciremai
Makan Siang di Pos 5 Sebelum Pulang
Pos 2 Gunung Ciremai
Jalan Pulang Menuju Pos 2 Arban
Pos 2 Gunung Ciremai
Istirahat di Pos 2 Gunung Ciremai saat pulang
Pos 1 Berod Gunung Ciremai
Pos 1 Berod Sebelum Pulang

Tentang Gunung Ciremai

Gunung Ceremai atau Gunung Ciremai memiliki ketinggian sekitar 3.078 mdpl yang mencakup 3 kabupaten: Cirebon, Majalengka, dan Kuningan, membuatnya menjadi gunung dengan puncak tertinggi di Jawa Barat. Di atas puncak gunung berjenis berapi kerucut ini terdapat dua kawah utama yang masing-masing berdiameter 400m dan 600m. Gunung Ciremai secara khusus dan resmi dikelola oleh pihak pengurus Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), dengan total luasnya 15.000 hektare. Selengkapnya . . .

Tentang Tim Pendaki Kami (BJ35)

Anggota Tim BJ35 yang Ikut Berangkat:

Tyo Stefanus, Hendra Sirait, Bryan Fau, Boa Falakhi, Bonifasius Falakhi, Fandy Liwu, dan Walter Pinem.

Informasi Singkat Seputar Pendakian Gunung Ciremai

Jalur populer yang tersedia antara lain:

1. Jalur Palutungan melalui Desa Palutungan (Kabupaten Kuningan).

2. Jalur Linggarjati melalui Desa Linggarjati (Kabupaten Kuningan).

3. Jalur Apuy melalui Desa Apuy (Kabupaten Majalengka).

Mendaki Gunung Ciremai Lewat Jalur Apuy

Waktu Tempuh Antar-Pos

1. Basecamp ke Pos 1 Berod (bisa jalan kaki sekitar 40 menit atau menggunakan kendaraan sewa sekitar Rp 15.000,- hingga Rp 30.000,- per orang).

2. Pos 1 Berod ke Pos 2 Arban (sekitar 20 – 30 menit).

3. Pos 2 Arban ke Pos 3 Tegal Masawa (sekitar 40 menit – 1 jam).

4. Pos 3 Tegal Masawa ke Pos 4 Tegal Jamuju (sekitar 40 menit – 1 jam).

5. Pos 4 Tegal Jamuju ke Pos 5 Sanghyang Rangkah (sekitar 1 – 2 jam).

6. Pos 5 Sanghyang Rangkah ke Pos 6 Goa Walet (sekitar 1 jam 45 menit – 2,5 jam).

7. Pos 6 Goa Walet ke Puncak Gunung Ciremai (sekitar 20 – 40 menit).

Total pendakian bisa memakan waktu sekitar 8 jam dengan santai dari Pos 1 Berod menuju Puncak Gunung Ciremai.

Rincian Biaya Pendakian Gunung Ciremai Dari Bandung Lewat Jalur Apuy, Majalengka

Tarif Angkutan/Bus

1. Dari Terminal Cicaheum, Bandung, tarif normal rata-rata antara Rp 20.000,- hingga Rp 30.000,- menaiki bus apapun menuju Majalengka.

2. Dari Terminal Majalengka menuju Pos 1 Berod, biasanya Rp 15.000,- hingga Rp 30.000,- per orang. Alternatif lain bisa berjalan kaki rata-rata memakan waktu 30 hingga 40 menit.

Tiket Masuk

Per April 2015, tarif pendakian menjadi Rp 50.000,- per orang berikut asuransi, kopi dan makan yang telah disediakan oleh panitia pengurus TNGC.

Pantangan Mendaki Gunung Ciremai

Sama seperti gunung manapun di Indonesia pada umumnya, secara khusus jangan pernah mengganggu habitat flora maupun fauna yang ada di sekitar Gunung Ciremai, merusak fasilitas yang ada, vandalisme, anggap remeh/songong/kata-kata kasar dan kotor, membawa pulang sesuatu yang cukup penting, dan sebagainya. Jangan juga menampung urine di botol air mineral dan membiarkannya begitu saja, jangan lupa pamit jika berhajat, dan jika bertemu dengan lebah dan jalak hitam JANGAN DIGANGGU!!

Misteri Gunung Ciremai

Di masing-masing Pos menuju puncak terdapat misteri atau mitosnya tersendiri, sadar atau tidak pasti akan dialami. Entah itu angin yang tiba-tiba berhembus di spot tertentu, jalak hitam yang selalu mengikuti, atau keanehan lainnya. Intinya tetap tenang karena semua itu hal yang wajar di Gunung Ciremai.

Di antara Pos 4 hingga Pos 6, kadang sosok binatang berupa macan kerap terlihat. Ada juga anjing hutan atau pun bayangan putih di siang bolong. Intinya tetap tenang karena tujuan kita tidak mengganggu 😀 Semua hal di atas sudah kami alami saat mendaki. Menurut cerita pendaki lain, di sepanjang Jalur Linggarjati dan Jalur Palutungan, katanya para pendaki sering diikuti oleh segerombolan pocong, keris yang melayang, dan kadang melihat jejak kaki manusia kerdil dan macan yang masih basah.

Aku sendiri ketika turun lewat jalur yang sama (Jalur Apuy) diikuti oleh jalak dan lebah hitam, hanya aku saja yang sadar dan teman yang lain sama sekali tidak melihat kedua binatang tersebut sedang mengikutiku (padahal jarak kami cukup dekat).

Akhir Kata

Goodbye Ciremai!
Goodbye Ciremai!

Jangan pernah anggap remeh Gunung Ciremai jikapun sudah ditaklukkan lebih dari satu kali! Meski tidak terlalu tinggi dibandingkan gunung-gunung di Jawa Tengah dan Timur (3.078 mdpl), Gunung Ciremai memiliki tantangan dan kesulitannya tersendiri. Selalu persiapkan diri dengan baik, perbanyak istirahat dan makan, persiapkan fisik dan berdoa yang paling utama 😀 Selamat menanjaki 90% tanjakan di Gunung Ciremai menuju ketinggian 3.078 mdpl! Nikmati saja keindahan dan misteri yang ada.

 

Comment Policy in force from July 2013

Please kindly submit your thought below. I do really value your time and opinion about this article. But before submitting any comments, please read the following policies:

Please be aware that all comments are moderated and SPAM will not be published.

Comments must relate to the post topic.

Please use only your real name (not keywords), real email address and website URL on the available forms.

Don't embed URL right inside the comment form, unless your comment will not be approved.

If you are going to spam my inbox, make it worth your while ;)

 

Submit a comment

Pin It on Pinterest

Share This